Kapal Ternak Diklaim Pangkas Biaya Distribusi Sapi Hingga 85%, Benarkah?

Kapal Ternak Diklaim Pangkas Biaya Distribusi Sapi Hingga 85%, Benarkah?

Michael Agustinus - detikFinance
Selasa, 05 Jan 2016 14:00 WIB
Kapal Ternak Diklaim Pangkas Biaya Distribusi Sapi Hingga 85%, Benarkah?
Jakarta -

Kapal ternak KM Camara Nusantara I yang mulai beroperasi pada Desember 2015 lalu digadang-gadang oleh pemerintah mampu memangkas biaya distribusi sapi dari Nusa Tenggara Timur (NTT) ke DKI Jakarta hingga 85% dari 1,8 juta per ekor menjadi hanya Rp 320 ribu per ekor.

Hendrik Hartono, salah satu pelaku bisnis sapi antar pulau, ‎mengatakan bahwa kapal ternak sangat membantu para pengusaha untuk mengirimkan sapi dari NTT ke Jakarta. Dengan kapal ternak, sapi tak perlu diturunkan di Surabaya dan diangkut dengan truk sampai Jakarta, tapi langsung dari NTT ke Jakarta, biayanya pun lebih hemat.

‎"Kita menghemat biaya ekspedisi dari Surabaya ke Jakarta. Ongkos truk kan banyak, kalau langsung ke Jakarta itu terpangkas banyak. Selisih biaya itu yang membuat lebih murah," kata Hendrik usai diskusi di Restoran Bumbu Desa, Jakarta, Selasa (5/1/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tetapi, penghematan biaya transportasi dari kapal ternak ‎tak sampai 85%. Dengan angkutan konvensional, yakni kapal kargo dan truk, biaya angkut sapi ke Jakarta adalah Rp 1,4 juta - Rp 1,5 juta/ ekor. Sedangkan bila menggunakan kapal ternak, biayanya Rp 1,1 juta/ ekor.

Hendrik menjelaskan, tarif kapal ternak memang Rp 320 ribu per kor sapi, tapi masih harus ditambah dengan biaya angkut dari peternakan menggunakan truk, biaya karantina, dan sebagainya, maka totalnya menjadi Rp 1,1 juta ‎per ekor.

"Kalau biaya angkut pakai kapal kargo itu ‎Rp 1,4 juta - Rp 1,5 juta per ekor sampai Jakarta. Kalau pakai kapal ternak milik pemerintah kurang lebih biaya angkutnya Rp 1,1 juta per ekor sapi," paparnya.

Artinya, penghematan biaya transportasi dari penggunaan kapal ternak hanya berkisar Rp 350 ribu per ekor atau 25%.‎ "Kalau pakai kapal ternak hemat Rp 300 ribu-Rp 350 ribu per ekor, berarti harga sapinya bisa berkurang Rp 1.000- Rp1.500 per kilogram bobot hidup," tukas Hendrik.

Tapi, dia menambahkan, adanya kapal ternak juga menciptakan efisiensi di luar biaya distribusi karena ‎penyusutan bobot sapi di perjalanan berkurang. Selain itu, pemangkasan birokrasi pada proses karantina yang dilakukan sejak ada kapal ternak juga membuat biaya pemeliharaan berkurang.

Biasanya, sapi dari NTT harus menginap 2-3 minggu di karantina karena perizinan yang berbelit sehingga menghabiskan biaya pemeliharaan sampai Rp 250 ribu per ekor sapi. Kini proses perizinan dipercepat, dalam 5 hari sapi sudah sampai di Jakarta.

"Di karantina, izin, rumput, air, tenaga kerja itu biasanya Rp 200 ribu-Rp250 ribu per ekor. Biasanya nginap 2-3 minggu. Dengan adanya kapal ternak bisa lebih cepat dan efisien," tutup Hendrik.

(hns/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads