Pada 11 Desember 2015 lalu, kapal ternak KM Camara Nusantara I tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, dengan membawa 353 ekor sapi dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Kapal ternak pertama milik Indonesia tersebut disambut langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan beberapa menteri.
Begitu tiba di Jakarta, daging sapi asal NTT itu dijual di bawah Rp 100.000/ kilogram (kg), bahkan hingga Rp 75.000/kg. Namun, harga jual ini ternyata merugikan pedagang yang berpartisipasi mengirim sapi dari NTT ke Jakarta.
Hendrik Hartono, pelaku bisnis sapi antar pulau, menuturkan bahwa modal yang dia keluarkan untuk membeli sapi dari NTT dan mengirimnya ke Jakarta adalah Rp 38.000- Rp 40.000/kg bobot hidup. Untuk perjalanan perdana kapal ternak bulan lalu, dia menjual sapi dengan harga hanya Rp 35.000/kg bobot hidup alias rugi Rp 3.000/kg bobot hidup.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menjelaskan, di tingkat peternak saja harga sapi NTT sudah Rp 28.000-Rp 30.000/kg bobot hidup. Ditambah biaya angkut sebesar Rp 1,1 juta per ekor dari NTT sampai Jakarta, biaya pakan, dan sebagainya maka modal yang dikeluarkan adalah Rp 38.000-Rp 40.000 per kg/bobot hidup.
Sementara itu, Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI), Teguh Boediyana, menyatakan bahwa daging sapi NTT tak mungkin bisa dijual Rp 75.000/kg di Jakarta meski ada kapal ternak.
Apalagi sapi NTT yang dipasok ke Jakarta tak seberapa jumlahnya, tidak mungkin bisa menurunkan harga daging sapi yang sudah terbentuk di Jakarta.
"Mungkin ada masukan-masukan yang tidak benar. Tidak mungkin sapi dari NTT sampai sini harga dagingnya Rp 75.000 per kg. Tidak mungkin juga menurunkan harga di Jakarta yang sudah terbentuk Rp 100.000 per kg. Dugaan saya ini ada salah informasi yang diberikan kepada Pak Jokowi," tutur Teguh
(hns/hns)











































