Pengusaha Ngaku Jual Rugi Sapi NTT, Mentan: Periksa Keuangannya

Pengusaha Ngaku Jual Rugi Sapi NTT, Mentan: Periksa Keuangannya

Michael Agustinus - detikFinance
Rabu, 06 Jan 2016 12:25 WIB
Pengusaha Ngaku Jual Rugi Sapi NTT, Mentan: Periksa Keuangannya
Jakarta - Pengusaha sapi antar pulau yang menjual sapi dari Nusa Tenggara Timur (NTT) menggunakan kapal ternak KM Camara Nusantara I ke DKI Jakarta, pada 11 Desember 2015, mengaku menjual rugi hanya demi kelancaran operasi kapal ternak yang ditunggu-tunggu oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengaku tak percaya dengan pengakuan pengusaha tersebut. Dia menegaskan, sapi NTT yang diangkut KM Camara Nusantara I sudah dibayar dengan harga yang layak. Amran pun menantang balik pengusaha yang mengaku rugi untuk menunjukkan laporan keuangannya.

‎"Coba periksa keuangannya, apa benar rugi?" kata Amran, saat ditemui di Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (6/1/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Amran mengaku tak kaget dengan kenaikan harga yang diminta pengusaha untuk sapi NTT yang dikirim dengan kapal ternak ke Jakarta, dengan alasan masih rugi. Menurutnya, itu trik lama yang biasa ‎dipakai pengusaha.

"Pengusaha kan memang pasti minta naik, kalau minta turun baru saya heran," ucapnya.

Keberadaan kapal ternak, dia menambahkan, menimbulkan banyak ketidaksukaan dari berbagai pihak yang selama ini memainkan harga dan pasokan sapi. ‎Karena itu wajar ada berbagai macam isu.

"Ini sistem (pasar daging sapi) yang sudah terbangun 70 tahun, kita akan membangun struktur pasar yang baru, ini nggak mudah, ini memang ada resistensi di mana-mana," tukasnya.

Meski banyak resistensi, Amran tak mau menyerah. Pihaknya akan terus berupaya mengubah struktur pasar supaya harga daging sapi bisa turun signifikan.‎ "Tapi kita tidak boleh menyerah, karena ini menguntungkan rakyat. ‎Targetnya adalah mengubah struktur pasar baru," tegasnya.

‎Salah satu upaya mengubah struktur pasar tersebut adalah dengan terus mengoperasikan kapal ternak yang mampu menciptakan efisiensi biaya distribusi sapi antar pulau.

"Kami sudah bentuk tim, hari ini rapat. ‎Harus jalan terus (kapal ternak)," tutupnya.

Sebelumnya, Hendrik Hartono, pelaku bisnis sapi antar pulau, menuturkan bahwa modal yang dia keluarkan untuk membeli sapi dari NTT dan mengirimnya ‎ke Jakarta adalah Rp 38-40 ribu/kg bobot hidup.

Untuk perjalanan perdana kapal ternak bulan lalu, dia menjual sapi dengan harga hanya Rp 35 ribu/kg bobot hidup alias rugi Rp 3 ribu/kg bobot hidup. Dia mengaku menjual rugi karena harus berpartisipasi untuk menyukseskan peresmian kapal ternak yang disaksikan langsung kedatangannya oleh Presiden Jokowi di Tanjung Priok pada 11 Desember 2015 lalu.

‎"Sapi dari Kupang modalnya Rp 38-40 ribu/kg bobot hidup. Jadi kemarin rugi jual Rp 35 ribu/kg bobot hidup. Kemarin kan kapal perdana, masuk Jakarta Pak Jokowi yang sambut, jadi kita harus berpartisipasi," ungkap Hendrik.

‎Dia menjelaskan, di tingkat peternak saja harga sapi NTT sudah Rp 28-30 ribu/kg bobot hidup. Ditambah biaya angkut sebesar Rp 1,1 juta per ekor dari NTT sampai Jakarta, biaya pakan, dan sebagainya maka modal yang dikeluarkan adalah Rp 38-40 ribu per kg/bobot hidup.

"Pembelian di NTT sudah Rp 28-30 ribu/kg bobot hidup. Modal sudah 38-40 ribu/kg bobot hidup," paparnya.

(rrd/rrd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads