Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Srie Agustin mengatakan, harga cabai merah tengah berangsur turun sehingga tidak perlu menggelar pasar murah untuk menurunkan harga.
"Pasar murah cabai nggak kita lakukan karena harga sudah lumayan turun. Pasokan udah mulai banyak di pasar Induk Kramat Jati. Indikatornya kalau pasokan sudah nambah ya harga pelan-pelan akan turun," kata Srie, ditemui usai ramah tamah Tahun Baru 2016, di Auditorium Kementerian Perdagangan, Rabu (6/1/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nanti akhir Januari sampai Februari akan mulai turun lagi harganya. Panen di beberapa daerah sudah mulai berlangsung," kata Srie.
Terkait kenaikan harga beras, menurut Srie, kenaikannya tidak lebih dari 2% sehingga tidak signifikan. Srie menganggap kenaikan tersebut masih wajar.
"Harga beras medium rata-rata naik satu koma, masih di bawah 2%. Itu kita anggap masih stabil. Lainnya yang naik paling hanya cabai dan bawang merah saja. Itu pun sudah mulai turun harga. Mudah-mudahan di akhir Januari sampai Februari sudah aman," tambah Srie.
Kemendag juga belum berencana menggelar operasi pasar beras pada Januari 2016 ini karena kenaikan harga dinilai masih wajar. Kemendag baru akan menggelar operasi pasar ketika harga beras naik mendekati 10%.
"Indikatornya operasi pasar kalau kecenderungan harga naik sampai dengan 10%. Bulog kan di Desember kemarin baru melepas 100.000 ton. Bulan ini belum kita tugaskan Bulog," kata Srie.
Kenaikan harga beras, Srie menilai, sebagai kondisi yang menguntungkan petani. Harga sudah berada di atas harga pokok penjualan sehingga bisa dinikmati petani dan belum mengganggu konsumen.
"Harga beras sudah ada HPPnya dan sekarang di atas HPP. Kalau harga bagus kan petani lebih senang lagi. Justru yang ditakutkan kalau harga akan jatuh di bawah HPP yang ditentukan. Kalau harga sudah bagus, petani menerima pendapatan itu ya nggak apa-apa," pungkas Srie.
(rrd/rrd)










































