Akibat anjloknya produksi gula kristal putih (GKP) untuk konsumsi rumah tangga di dalam negeri ini, diperkirakan ada defisit produksi GKP sekitar 400 ribu ton, untuk kebutuhan pada pertengahan Maret-Mei 2017. Sebab, kebutuhan gula untuk konsumsi rumah tangga mencapai 2,82 juta ton per tahun.
AGI meminta pemerintah melakukan antisipasi sejak jauh-jauh hari, tidak melakukan impor GKP secara mendadak seperti saat ini. Tetapi, disarankan yang diimpor bukan GKP karena tidak dapat disimpan dalam waktu lama. Sebaiknya yang diimpor adalah gula mentah (raw sugar) βuntuk diolah menjadi GKP.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"(Produksi gula) Yang kita perkirakan 2,3 juta ton ini sudah termasuk dampak la nina. Minimal perlu impor 400 ribu ton GKP, atau setara dengan 420 ribu ton gula mentah," kata Direktur Eksekutif AGI, Tito Pranolo, dalam Sugar Outlook 2016 di Gedung Gula Negara, Jakarta, Rabu (13/1/2016).
Menurut Tito, terlalu beresiko bila pemerintah baru memutuskan impor GKP di akhir tahun. Di akhir 2016 ini produksi gula dunia bisa anjlok akibat la nina, harga pun bakal terkerek naik, akan lebih sulit untuk mencari pemasok gula dengan harga yang ekonomis dalam kondisi seperti itu. "Apakah seperti di 2015, kita menunggu realisasi produksi, kita lihat stok tertekan dan tidak memadai, baru kita impor GKP, atau kita antisipasi cuaca yang tidak bersahabat?" tukasnya.
Gula mentah impor, sambungnya, juga dapat mengisi kapasitas yang tidak terpakai (idle capacity) di pabrik-pabrik gula lokal. Bila idle capacity itu tidak diisi, biaya produksi gula menjadi lebih mahal.β "Kapasitas utilisasi (tahun ini) diperkirakan meningkat 11%, darpada idle, lebih baik diisi gula mentah. Biaya produksi gula bisa menurun sekitar 4% kalau itu diisi," papar Tito.
Diakuinya, masuknya 420 ribu ton gula mentah impor ke pabrik gula lokal berpotensi menjatuhkan harga gula lokal dan merugikan petani tebu. Tetapi, ada banyak keuntungan jika yang diimpor untuk menutup defisit pada 2017 bukan GKP melainkan gula mentah.
Pertama, pemerintah bisa melakukan antisipasi sejak jauh-jauh hari. Kedua, biaya produksi gula lokal bisa ikut turun karena digiling bersamaan dengan gula mentah, sehingga seluruh kapasitas pabrik gula terisi. Ketiga, ada nilai tambah yang tercipta di dalam negeri karena adanya proses pengolahan gula mentah menjadi GKP.
Berdasarkan argumen-argumen itu, AGI meminta pemerintah memberikan jatah impor gula mentah sebanyak 420 ribu ton pada tahun ini untuk mengantisipasi defisit gula sebelum musim giling tebu tahun 2017.
"Pilihan itu pasti satu baik, satu buruk, atau semua baik. Tapi ada kalanya pilihan hanya buruk dan lebih buruk. 2016 produksi gula turun, impornya pasti naik. Jadi tinggal pemerintah mau impor GKP di akhir tahun yang nggak ada value added, atau raw sugar lalu kita olah di pabrik gula. Kapasitas pabrik jadi penuh (bila ada gula mentah impor) sehingga biaya produksi turun," tutupnya.
(dnl/dnl)











































