Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 14 Jan 2016 11:05 WIB

Jalan Trans Papua Bisa Tekan Harga Barang Hingga 50%

Dana Aditiasari - detikFinance
Jakarta - Pembangunan Jalan Trans Papua terus dikebut oleh pemerintah, lewat Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono mengatakan, Jalan Trans Papua ini akan mengurangi tingkat kemahalan yang ada di wilayah-wilayah pelosok Papua.

"Kalau ini sudah tersambung semua, harga-harga yang tadinya mahal bisa dikurangi. Tingkat kemahalan di Papua bisa turun sampai 50%, kalau jalan ini tersambung semua," ujar Basuki, saat berbincang bersama detikFinance di ruang kerjanya, Jakarta, Selasa (12/1/2016).

Hal ini, kata dia, dikarenakan keberadaan jalan nasional sepanjang 4.325 km ini akan membuka alternatif atau pili‎han transportasi untuk angkutan barang, yang selama ini hanya bisa dilakukan lewat jalur udara.

Seperti diketahui, transportasi angkutan barang melalui udara sangat mahal.

"Kita lihat kan dan kita rasakan sendiri barang-barang mahal karena angkutannya mahal. Makanya jalan darat ini harus dipercepat. Kalau sudah ada akses darat, barang-barang bisa diangkut dari darat. Biaya lebih murah," pungkasnya.

Sebelumnya, Basuki pernah membeberkan, biaya angkut untuk 1 kg barang dengan menggunakan pesawat udara sebesar Rp 10 ribu-Rp 15 ribu. Dengan perhitungan tersebut, untuk mengangkut satu sak semen seberat 50 kg, maka diperlukan biaya angkut hingga sebesar Rp 750 ribu, bahkan lebih bila kondisi cuaca sedang tidak mendukung.

Sementara untuk kegiatan konstruksi pembangunan jalan sendiri, ia membeberkan pengalaman mahalnya mengangkut alat berat, seperti eskavator ke lokasi proyek yang terpencil.

Biayanya bisa mencapai Rp 2 miliar. Karena harus diangkut beberapa kali menggunakan helikopter khusus yang didatangkan dari Rusia.

"Kalau harga eskavator sekitar Rp 1,2 miliar biaya angkutnya bisa Rp 2 miliar sendiri. Itu pun nggak satu kali jalan. Eskavator itu harus dipreteli dulu, baru diangkut pakai heli. Bisa 3 kali balik minimal. Helinya pun khusus didatangkan dari Rusia.‎ Baru setelah di lokasi, eskavator dirakit lagi. Makanya biayanya mahal sekali," tandas dia.

(dna/drk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com