Pemerintah menjajaki mengimpor 1 juta ton beras dari Pakistan tahun ini. Wacana impor beras Pakistan tersebut terus dimatangkan seiring kedatangan beras dari Vietnam dan Thailand.
Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti mengungkapkan, rencana tambahan 1 juta beras asal Pakistan dilakukan untuk menjaga pasokan jika ada perubahan masa tanam, serta masih belum cukupnya beras impor asal Vietnam dan Thailand.
"Sementara masih menggunakan perhitungan lama (stok Bulog) sebesar 1,5 juta ton, yakni sampai dengan Maret 2016. Artinya untuk 2016 ini masih sekitar 700.000 ton, sisa dari perhitungan lama. apakah ini cukup? perlu dilakukan pedalaman," kata Djarot ditemui di kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, Kamis (14/1/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Intinya adalah pemerintah itu ingin menyiapkan cadangan yang memadai. Sehingga kalau ada El Nino yang menyebabkan produksi drop, atau yang katanya di masyarakat tidak bisa keluar, beras di konsumen bisa terkendali," jelas Djarot.
Dia melanjutkan, pihaknya juga telah menyiapkan dana jika memang Bulog benar-benar harus mendatangkan beras Pakistan.
"Dari beberapa bank. Dari BRI, dari BNI kita dapat, Bukopin. Dan bahkan Mandiri siap back up. Kebutuhan dana ini ada angka maksimum dan rata-rata. Misalnya kita butuh stok 2 juta ton, yah kalikan saja Rp 7.300/kg," tutup Djarot.
(hns/hns)











































