Bidik Peningkatan Ekspor 9% di 2016, Ini Strategi Mendag

Bidik Peningkatan Ekspor 9% di 2016, Ini Strategi Mendag

Michael Agustinus - detikFinance
Senin, 18 Jan 2016 12:32 WIB
Bidik Peningkatan Ekspor 9% di 2016, Ini Strategi Mendag
Jakarta - ‎Menteri Perdagangan (Mendag) Thomas Lembong menargetkan peningkatan ekspor non migas sampai 9% tahun ini. Meski memasang target, Lembong menambahkan, dirinya cukup puas jika ekspor non migas di tahun ini tidak jeblok walupun tidak meningkat sesuai target.

Sebab, menurut Lembong, kondisi perekonomian dunia saat ini masih kurang baik.

"Untuk 2016 target resmi kita 9%, untuk 4 tahun ke depan rata-rata 11,5% untuk ekspor non migas. Tapi saya sudah akan happy kalau tren perdagangan stabil saja. Tahun lalu kontraksi ekspor kita 14%. Kalau tahun ini tidak ada kontraksi saja itu sudah suatu perbaikan yang besar," kata Lembong dalam konferensi pers di Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta, Senin (18/1/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemendag telah menyiapkan sejumlah langkah agar ekspor bisa meningkat atau setidaknya stabil. ‎Pertama, deregulasi dan debirokratisasi untuk mempermudah ekspor terus dilanjutkan. Tujuannya agar para pelaku usaha, terutama usaha kecil dan menengah (UKM), bisa mengurus perizinan ekspor dengan mudah.

"Strategi kita di 2016 untuk jaga ekspor, kelanjutan dari deregulasi dan debirokratisasi, ini membuat menderita UKM, itu akan membebaskan pelaku-pelaku usaha kita," ujarnya.

Kedua, Lembong juga berupaya membuka lebar pasar ekspor di luar negeri melalui sejumlah perjanjian perdagangan bebas. Dengan begitu, produk-produk Indonesia bisa terbebas dari berbagai hambatan regulasi di luar negeri.

"Saya mengharapkan kemajuan yang cukup baik dalam upaya kita untuk membuka pasar ekspor di luar negeri dengan trade agreement. Berarti kita bisa lebih menjangkau pasar karena simplifikasi aturan seperti kepabeanan dan sebagainya," ucapnya.

Dia menyebut beberapa perjanjian pedagangan bebas seperti Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dengan Uni Eropa, European Free Trade Association (EFTA), dan perjanjian-perjanjian bilateral sebagai prioritas untuk diselesaikan perundingannya oleh Indonesia tahun ini.

"Kita segera melanjutkan negosiasi dengan Uni Eropa,CEPA. Dengan 4 negara EFTA yaitu Swiss, Norwegia, Islandia, Liechtenstein. Ini sudah dimulai zaman Pak SBY, mudah untuk diaktifkan kembali," tukas Lembong.

‎Lembong mengatakan, ekspor produk-produk perkebunan dan makanan minuman olahan (mamin) asal Indonesia sangat berpotensi untuk ditingkatkan ke Swiss dan Norwegia.

"Swiss dan Norwegia itu 2 negara yang perekonomiannya sudah luar biasa maju. Nestle itu produk Swiss, jadi sudah pasti komoditas unggulan kita seperti kakao, kopi, teh, rempah-rempah, kelapa, mamin, cukup prospektif," paparnya.

Industri perikanan dan energi terbarukan (EBT) di Indonesia juga bisa lebih berkembang melalui perjanjian dengan Norwegia.‎

"Norwegia canggih sekali di perikanan, kita bisa kerja sama di bidang perikanan. Sesuai arahan Wapres juga, di EBT. Itu contoh-contohnya," ucapnya.

"‎Untuk perjanjian perdagangan bilateral, Australia menjadi prioritas pada tahun ini. "Kami juga akan menjalin perjanjian bilateral dengan negara-negara tertentu, khususnya Australia," pungkasnya.

(hns/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads