Di era Presiden Joko Widodo (Jokowi), komite ini kembali dibentuk. Namun dengan nama berbeda. Jokowi menyebutnya sebagai Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) dengan Soetrisno Bachir sebagai posisi Ketua.
Apa bedanya?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jokowi mencontohkan, untuk pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA), selama ini SDA khususnya sektor pertambangan, hanya diekspor dalam bentuk mentah. Harganya murah dan kecil kontribusinya terhadap perekonomian dalam negeri. Maka dari itu dibutuhkan industrialisasi.
"Dengan industrialisasi ada nilai tambah dari bahan baku yang kita punyai, SDA, tidak lagi kita ekspor komoditas mentah, tidak lagi kita ekspor bahan baku, tidak lagi kita ekspor barang-barang yang tidak jadi atau setengah jadi. Targetnya memang industrialisasi, hilirisasi ekspor barang setengah jadi atau barang jadi sehingga ada nilai tambah," terangnya.
Hal yang senada juga diungkapkan oleh Ketua KEIN Soetrisno Bachir. Menurutnya, komite pada periode sebelumnya lebih mengarah pada sisi makro ekonomi. Sedangkan KEIN akan masuk lebih dalam, yakni sisi industri.
"Kalau dulu KEN lebih makro ini industri. memang ada pesan yang penting, kita ini ingin menjadi negara industri seperti Jepang Korea Selatan, Taiwan, China. Kita akan menuju kesana," kata Soetrisno pada kesempatan yang sama.
(mkl/drk)











































