β"2015 kita berhasil menyeimbangkan antara layanan dan komersial, layanan tetap berjalan optimal, tapi kami juga dapat untung. Estimasi kami kurang lebih laba sebelum pajak sebanyak Rp 1,6 triliun. Kalau diperhitungkan pajak, kurang lebih Rp 1,1 triliun," kata Direktur Utama Perum Bulog, Djarot Kusumayakti, dalam konferensi pers di Kantor Pusat Bulog, Jakarta, Kamis (21/1/2016).
Djarot mengungkapkan, laba hingga triliunan rupiah ini diperoleh Bulog berkat berbagai efisiensi, percepatan pembukuan, percepatan arus kas, dan sebagainya.β
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tetapi, Djarot menggarisbawahi bahwa βorientasi Bulog bukan sekadar laba, tapi tetap pelayanan untuk masyarakat. Perolehan laba hanya merupakan bukti bahwa pengelolaan Bulog sudah baik.
"Laba ini bukan segala-galanya, tapi membuktikan kami bisa menjadi Perum yang baik. Tim kami di internal punya keyakinan perusahaan dikelola dengan baik," ucapnya.
βPada kesempatan yang sama, Direktur Keuangan Perum Bulog Irianto Hutagaol menambahkan, peningkatan laba ini salah satunya didorong oleh peningkatan pendapatan Bulog dari kegiatan Public Service Obiligation (PSO) sampai 20%.
"Secara bisnis ada 2 model kita, yaitu PSO dan komersial. Dari PSO ada peningkatan pendapatan 20%. Penjualan dari kegiatan komersial Bulog yang mencapai Rp 6,5 triliun di 2015 juga menyumbang laba. Ada juga sumbangan dari βkomersial. Kita bisa menambah market kita, ini menyumbang pendapatan signifikan di 2016," ujar Irianto.
Sejumlah efisiensi dari biaya bunga, biaya pengangkutan beras, dan lain-lainnya juga membuat keuntungan yang dikantongi Bulog bertambah.β
"Kita efisiensi dalam penagihan kita ke pemerintah, tentu ini mengurangi biaya bunga. Efisiensi pengangkutan beras, dan sebagainya. Jadi tentu bisa masuk ke pendapatan kita," tutupnya.
(drk/drk)











































