Jokowi: Tak Mau Ikut TPP, Barang Kita Kena Pajak 20%

Jokowi: Tak Mau Ikut TPP, Barang Kita Kena Pajak 20%

Michael Agustinus - detikFinance
Jumat, 22 Jan 2016 16:39 WIB
Jokowi: Tak Mau Ikut TPP, Barang Kita Kena Pajak 20%
Foto: Setpres
Wonogiri - Pemerintah pimpinan Joko Widodo (Jokowi) menjadikan infrastruktur sebagai prioritasnya. Proyek jalan hingga Papua, bandara, rel, hingga kereta cepat dibangun. Kenapa?

"Sekarang era kompetisi, era persaingan, antar individu, antar kota, antar provinsi, antar negara. Sudah tidak bisa kita tolak lagi. MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) sudah masuk awal tahun ini," jelas Jokowi saat meluncurkan Program Investasi Menciptakan Lapangan Kerja Tahap III dan Peresmian Pabrik PT Nesia Pan Pacific Clothing, serta Peresmian Akademi Komunitas Industri TPT (tekstil dan produk tekstil) Surakarta.

Acara dilakukan di Wonogiri, Jawa Tengah, Jumat (22/1/2016). Pada acara ini juga hadir Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani, Menteri Perindustrian Saleh Husin, dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jokowi juga menyinggung soal Trans Pacific Partnership (TPP) yang tengah dibahas pemerintah, apakah Indonesia harus ikut serta. TPP merupakan perjanjian perdagangan bebas yang diprakarsai oleh Amerika Serikat (AS).

"Begitu saya bilang saya tidak mau ikut TPP, barang kita ke sana masuk kena (pajak) 20%, barang kita nggak bisa bersaing. Ini fakta yang kita hadapi," kata Jokowi.

Karena itu, persaingan atau perdagangan bebas tak bisa dihindari. Indonesia harus bisa bersaing untuk menang. Caranya lewat infrastruktur dan juga peningkatan skill tenaga kerja. Lewat infrastruktur, biaya logistik akan murah, dan harga barang juga turun.

Untuk skill, Jokowi mengatakan, dirinya menghargai Program Investasi Menciptakan Lapangan Kerja Tahap III dan Peresmian Akademi Komunitas Industri TPT (tekstil dan produk tekstil).

"Tanpa itu kita pasti ditinggal negara-negara lain, orang nggak mau masuk ke Indonesia, merek pilih Vietnam dan negara-negara lain yang lebih punya daya saing," ungkap Jokowi.

"Inilah kenyataan dan fakta yang harus kita hadapi dan harus kita benahi, kita perbaiki. Tidak ada cara lain kalau kita mau survive memenangkan persaingan," imbuhnya. (wdl/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads