"Sekarang ini terbang ke Timur Indonesia itu mahal sekali. Sekali terbang bisa Rp 1 juta lebih," kata Jonan di Gedung DPD, Jakarta, Selasa (26/1/2016).
Bandara-bandara di Indonesia Timur atau daerah terpencil rata-rata memiliki landasan atau runway pendek seperti di bawah 1.400 meter.Β Akibatnya, pesawat berbadan kecil saja yang bisa masuk sehingga ongkos angkut menjadi mahal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melihat hal itu, Kemenhub sedang dan akan melakukan beberapa upaya seperti pembangunan bandara baru di pulau terpencil seperti Papua. Kemenhub juga melakukan perpanjangan landasan untuk bandara di daerah pulau terluar, terdepan, terpencil dan rawan bencana sehingga bandara tersebut bisa didarati pesawat jet sekelas Boeing 737 ataupun paling tidak pesawat sekelas ATR 72.
"Prioritas kami bandara itu bisa dibangun landasan 2.000-2.200 meter, supaya bisa didarati Boeing 737 dan seukurannya. Kalau nggak ada tanahnya, kita bangun landasan 1.800 meter supaya bisa didarati pesawat yang berkapasitas 70 penumpang. Kalau nggak ada tanahnya juga 1.400 meter," jelasnya.
Bila infrastruktur bandara dari sisi udara seperti runway telah dirombak, Jonan optimistis maskapai akan memilih untuk memakai armada dengan kapasitas penumpang lebih besar. Akibatnya, harga tiket pesawat bisa ditekan sehingga transportasi udara semakin bergairah.
"Ke depan saya ingin transportasi manusia ke pulau-pulau besar sudah pakai pesawat udara. Kapal lautnya untuk angkutan barang," sebutnya.
(feb/drk)











































