Di Depan Investor, Menkeu Sebut RI Tak Lagi Bergantung ke Sektor Migas

Di Depan Investor, Menkeu Sebut RI Tak Lagi Bergantung ke Sektor Migas

Maikel Jefriando - detikFinance
Rabu, 27 Jan 2016 11:39 WIB
Di Depan Investor, Menkeu Sebut RI Tak Lagi Bergantung ke Sektor Migas
Foto: Maikel Jefriando
Jakarta - Menteri Keuangan, Bambang Brodjonegoro, memastikan penerimaan negara tidak lagi bergantung kepada sektor minyak dan gas bumi (migas). Ini sudah terjadi sejak beberapa tahun sebelumnya. Sekarang porsi terbesar penerimaan adalah pajak.

"Bila melihat ke masa lalu, penerimaan negara memang bergantung ke migas, tapi sekarang sudah tidak lagi," ungkap Bambang, dalam acara Mandiri Investment Forum di Hotel Fairmont, Jakarta, Rabu (27/1/2016).

Maka dari itu, ketika harga minyak terus turun sampai ke level US$ 30 per barel, tidak ada kekhawatiran yang terlalu berlebihan. Sekarang setoran dari migas hanya sekitar Rp 70 triliun dan diperkirakan akan terus menurun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Untuk penerimaan migas sudah tidak perlu diharapkan lagi, itu sudah sangat bergantung ke harga minyak dunia, kondisi global," jelasnya.

Sekarang fokus pemerintah, adalah kepada pajak. Pajak merupakan penyumbang paling besar untuk penerimaan negara. Pada 2015, realisasi penerimaan pajak mencapai Rp 1.060 triliun. Memang lebih tinggi dibandingkan realisasi 2014 yang sebesar Rp 985,13 triliun, tapi masih di bawah target.

"Ini merupakan pertama dalam sejarah, penerimaan pajak kita mencapai Rp 1.000 triliun. Sebelumnya kita mencapai Rp 1.000 triliun, tapi sudah ditambahkan dengan Bea dan Cukai. Sekarang hanya murni dari pajak," ujarnya.

Hal ini yang kemudian bisa membuat pemerintah menjaga defisit anggaran tidak melebihi yang ditentukan. Dengan belanja negara yang mencapai kisaran 90% dari pagu APBN, defisit bisa dijaga pada level 2,57%. Sebelumnya, diperkirakan bisa mencapai 2,8%.

"Di akhir 2015 kita bisa menjaga angka defisit 2,57%," imbuhnya. (mkl/wdl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads