"Bila melihat ke masa lalu, penerimaan negara memang bergantung ke migas, tapi sekarang sudah tidak lagi," ungkap Bambang, dalam acara Mandiri Investment Forum di Hotel Fairmont, Jakarta, Rabu (27/1/2016).
Maka dari itu, ketika harga minyak terus turun sampai ke level US$ 30 per barel, tidak ada kekhawatiran yang terlalu berlebihan. Sekarang setoran dari migas hanya sekitar Rp 70 triliun dan diperkirakan akan terus menurun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekarang fokus pemerintah, adalah kepada pajak. Pajak merupakan penyumbang paling besar untuk penerimaan negara. Pada 2015, realisasi penerimaan pajak mencapai Rp 1.060 triliun. Memang lebih tinggi dibandingkan realisasi 2014 yang sebesar Rp 985,13 triliun, tapi masih di bawah target.
"Ini merupakan pertama dalam sejarah, penerimaan pajak kita mencapai Rp 1.000 triliun. Sebelumnya kita mencapai Rp 1.000 triliun, tapi sudah ditambahkan dengan Bea dan Cukai. Sekarang hanya murni dari pajak," ujarnya.
Hal ini yang kemudian bisa membuat pemerintah menjaga defisit anggaran tidak melebihi yang ditentukan. Dengan belanja negara yang mencapai kisaran 90% dari pagu APBN, defisit bisa dijaga pada level 2,57%. Sebelumnya, diperkirakan bisa mencapai 2,8%.
"Di akhir 2015 kita bisa menjaga angka defisit 2,57%," imbuhnya. (mkl/wdl)











































