"Saya paling takut Vietnam. Akses pasar untuk ekspor, mereka sudah rampung agreement (kesepakatan) dengan Uni Eropa, trade agreement dengan Amerika Serikat, Jepang, sampai Kanada. Mereka sudah punya akses ke pasar bebas ke sana, kita nggak," ungkap Lembong, dalam Rapat Kerja Kementerian Perdagangan (Kemendag) di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (27/1/2016).
Dengan akses perdagangan Vietnam yang lebih luas, Indonesia akan sulit mengimbangi dalam hal tarif di negara tujuan ekspor. Efisiensi perusahaan Vietnam pun juga berada di atas pengusaha Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketertinggalan ini, sambung Lembong, terjadi akibat sejak dulu Indonesia terlambat memulai perjanjian perdagangan bebas dengan negara lain. Sebaliknya, masyarakat di dalam negeri malah masih meributkan dampak negatif dari perdagangan bebas.
"Kita kurang giat rajin keluar, tertinggal bikin trade agrement. Sehingga kita harus bergerak cepat, kalau nggak bergerak cepat dan bertele-tele, kita terperangkap polemik isu yang nggak-nggak, negara lain sudah serius, kita terancam ketinggalan," pungkasnya. (wdl/wdl)











































