"Banyak pabrik akhirnya pindah ke Jawa Tengah. Malah waktu kemarin pabrik-pabrik di Tangerang pindah besar-besaran ke Jateng, lantas semua buruhnya tepuk tangan," kata Ganjar di Mandiri Investment Forum, di Hotel Fairmont, Jakarta, Rabu (27/1/2016).
Pindahnya pabrik-pabrik dari Jabodetabek ke Jateng bukan tanpa sebab. Ganjar mengaku telah melakukan pendekatan dengan para buruh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya bilang buruh-buruh di Jateng, kenapa harus demo. Kenapa nggak kita duduk bareng saja merumuskan bersama. Lalu saya buat Pergub untuk melakukan survey rutin setiap tahunnya untuk mengetahui tingkat kenaikan harga dan tingkat kebutuhan. Hasilnya apa? Gajinya naik sedikit," tambahnya.
Lanjut Ganjar, dirinya memberi pemahaman dampak negatif bila para pekerja menuntut terlalu banyak kepada pemilik atau manajemen pabrik. Selain pabrik tak mampu membayar, investor juga akan angkat kaki. Ujungnya ialah para buruh bakal menjadi pengangguran.
"Kamu itu gaji nggak perlu besar yang penting kebutuhan kamu cukup. Loh iya, gaji kamu gede tapi perusahaan kamu nggak sanggup bayar terus tutup nanti yang gaji kamu siapa?," ucapnya.
Selain soal perburuhan, Ganjar juga mendorong pembangunan infrastruktur. Salah satunya mengaktifkan bandara-bandara berstatus militer (enclave sipil) agar bisa melayani penerbangan komersial.
"Ada investor dari Korea dan produknya sudah sampai diekspor ke mancanegara. Cuma ada satu masalah, kalau investornya mau datang, mereka kesulitan untuk ke lokasi pabrik. Makanya saya bujuk-bujuk pak Jonan, akhirnya dia setuju mengaktifkan kembali satu bandara di Jateng," tambahnya. (feb/drk)











































