Naiknya harga jagung ini dipicu kelangkaan pasca panen jagung yang terlambat akibat El Nino, dan pelarangan penggunaan jagung impor oleh Kementerian Pertanian. Jagung impor yang sudah masuk pelabuhan dalam negeri saat ini tertahan di gudang-gudang importir.
Kondisi ini membuat sejumlah peternak hingga produsen pakan ternak, mengadu ke Komisi IV DPR RI dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU). Rapat sendiri dipimpin oleh Wakil Ketua Komisi IV Viva Yoga. RDPU sendiri dimulai pukul 10.30.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai informasi, kenaiakn harga jagung yang menjadi bahan pakan ternak khususnya unggas, telah membuat harga ayam dan telur naik di pasar.
Federasi Masyarakat Perunggasan Indonesia pernah mengatakan, kenaikan harga jagung secara langsung akan menaikkan biaya produksi daging dan telur ayam. Setiap kenaikan harga jagung Rp 100/kg, akan menaikkan harga pokok produksi daging ayam sebesar Rp 80/kg.
Saat ini telah terjadi kenaikan harga jagung Rp 3.300/kg, artinya telah terjadi pula kenaikan harga pokok produksi daging ayam Rp 2.640/kg atau sekitar 15% hanya dalam waktu 2 bulan. Kondisi ini jika terus berlanjut akan memperburuk daya saing kita di pasar regional.
Lebih daripada itu, keempat, jagung yang sudah diimpor oleh pabrik pakan untuk pengiriman Desember 2015, dan tiba di beberapa pelabuhan di wilayah Indonesia Januari 2016 ini, dilarang untuk dibongkar dan digunakan. Hal ini sangat mengganggu keberlangsungan industri perunggasan dan usaha peternakan rakyat dalam budidaya ayam. Beberapa pabrik pakan saat ini hampir kehabisan jagung dan terancam berhenti berproduksi.
Pakan merupakan unsur terpenting dalam budidaya ayam dan berkontribusi 70% dari total biaya produksi. Lebih dari separuh dalam komposisi pakan ayam adalah jagung sebagai sumber utama untuk energi. Jadi ketersediaan jagung adalah sangat vital dalam usaha budidaya ayam.
Asosiasi Pakan pernah berkirim surat kepada Menteri Pertanian dengan tembusan kepada Presiden, tertanggal 19 Oktober 2015 yang hingga kini surat tersebut belum ada tanggapan.
Kelangkaan suplai jagung nasional bukan saja dihadapi oleh produsen pakan ternak, tetapi juga dialami oleh peternak ayam petelur yang menyusun sendiri ransum pakannya. Di sentra-sentra produksi telur nasional (Blitar-Jawa Timur, Legok Tangerang Banten, Lampung, Payakumbuh dan Medan di Sumatera, serta di Makassar - Sulawesi Selatan), peternak ayam bukan hanya menghadapi lonjakan harga jagung, tetapi mereka menjerit dan kelimpungan karena sulit mendapatkan jagung untuk kelanjutan usaha mereka.
Jika krisis jagung tidak segera diselesaikan, maka dapat berdampak serius terhadap kelangsungan industri perunggasan, yang pada akhirnya juga akan mengganggu suplai daging ayam dan telur. Tentu akan mengganggu suplai protein hewani yang sangat dibutuhkan rakyat Indonesia.
Daging ayam, menurut Federasi Masyarakat Perunggasan, memberikan kontribusi sebagai sumber utama (65%) protein hewani bagi masyarakat Indonesia, dan menyediakan lapangan kerja, di mana 12 juta lebih keluarga peternak menggantungkan mata pencahariannya. (wdl/wdl)











































