Ketua Gabungan Perusahaan Perunggasan Indonesia (GPPI), Anton J. Supit mengungkapkan, larangan impor jagung di tengah kelangkaan pasokan jagung lokal akan membuat harga daging ayam semakin tidak terkendali.
Imbasnya, pemenuhan protein hewani semakin sulit, karena harga daging sapi juga semakin tak terjangkau masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengungkapkan, sebelum melarang impor jagung, seharusnya perlu dilihat dampak luas pada masyarakat. Larangan impor secara tiba-tiba pun dinilai sangat mengganggu iklim usaha.
"Jangan lihat jagungnya. Tapi ini mengarah pada perunggasan dan akhirnya krisis pangan. Kita sadar APBN pada peranan pembangunan tak sampai 20%, makanya ini harus diisi swasta. Harusnya didukung agar penyedia protein hewani bisa murah dan didapat dengan mudah," tutupnya.
Sebagai informasi, Kementan menahan pasokan sekitar 670.000 ton jagung impor dengan alasan menjaga harga jagung di tingkat petani tidak jatuh ke level Rp 1.500/kg. Jagung impor ini tertahan di pelabuhan, gudang importir, dan kapal.
Jumlah jagung impor tersebut meliputi sebanyak 297.817 ton di atas kargo yang telah dibongkar muat namun disegel, 148.599 ton di atas kapal di pelabuhan dan sudah mendapat izin sandar dan bongkar, 140.470 ton di atas kapal di atas laut dengan telah memiliki izin sandar, dan 86.000 ton belum memiliki sama sekali izin yang masih berada di atas laut.
Sementara 6 pelabuhan yang jadi pintu masuk jagung impor adalah Pelabuhan Belawan, Pelabuhan Panjang, Pelabuhan Cigading, Pelabuhan Tanjung Mas, Pelabuhan Tanjung Perak, dan Pelabuhan Tanjung Priok. (wdl/wdl)











































