Ini Solusi Mendag Redam Lonjakan Harga Pangan

Ini Solusi Mendag Redam Lonjakan Harga Pangan

Michael Agustinus - detikFinance
Selasa, 02 Feb 2016 16:46 WIB
Ini Solusi Mendag Redam Lonjakan Harga Pangan
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Panjangnya rantai pasokan merupakan salah satu penyebab mahalnya harga pangan di Indonesia. Menteri Perdagangan Thomas Lembong mengakui ada masalah pada supply chain. Pihaknya pun berupaya membenahi rantai pasokan pangan.

Tapi menurutnya, rantai pasokan bukan penyebab utama tingginya harga pangan di Indonesia. Faktor utama penyebab lonjakan harga pangan adalah kurangnya pasokan. Maka pertama-tama, pasokan harus dinormalkan terlebih dahulu.

"Kita harus mencoba menormalkan kembali situasi. Peredaran sapi tidak normal, ayam dan jagung tidak normal, selama kondisi tidak normal pasti ada gejolak. Pertama kita harus normalisasi," kata Lembong saat diskusi dengan media di Restoran Sari Minang, Jakarta, Selasa (2/2/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah pasokan normal, barulah rantai pasokan mulai dibenahi. Masalah pada rantai pasokan, menurut Lembong, terutama ada pada struktur pasar di sektor logistik Indonesia yang masih terlalu kaku dan tertutup. Dia menyarankan sektor logistik lebih dibuka agar tercipta persaingan yang mendorong penurunan tarif.

"Kita harus perhatikan logistik, yaitu angkutan dan pergudangan. Contohnya menurut saya sektor logistik itu masih terlalu tertutup, banyak kekakuan yang membuat sulit sektor logistik berkembang dengan baik. Misalnya sektor angkutan, kereta api, masih resticted, swasta dilarang. Ini harus dibuka untuk swasta supaya lebih banyk investasi di situ," ucapnya.

Kurang terbukanya sektor logistik ini membuat pelaku pasar di usaha logistik bisa semaunya, pelayanannya tidak inovatif untuk konsumen. "Ada satu kabupaten mengeluh nggak boleh bikin gerbong khusus pangan. Masak nggak ada cara? Kalau bisa dibuat itu kan memperlancar rantai pasok. Pasti ada cara untuk membuatnya memungkinkan," tutur Lembong.

Sedikitnya pelaku usaha di sektor logistik juga menyuburkan praktek-praktek persaingan tidak sehat di sektor pangan. Bila ada pelaku usaha di sektor pangan yang sekaligus berusaha di sektor logistik dan cukup dominan, pelaku usaha tersebut sangat berpeluang untuk mengendalikan pasokan pangan.

"Salah satu cara pelaku besar mendominasi itu dengan menguasai sistem logistik. Mereka punya rantai logistik sendiri, tertutup untuk pihak ketiga. Kalau sektor logistik terbuka untuk semua pihak, itu akan memperlancar (pasokan pangan)," cetusnya.

Selain masalah di sektor logistik, kekurangan infrastruktur juga membuat stabilitas pangan terganggu. Contoh kecilnya adalah kekurangan infrastruktur kelistrikan yang membuat cold storage tidak bisa dibangun di suatu daerah. Padahal cold storage sangat penting untuk menyimpan stok pangan.

"Infrastruktur juga, kita mau bikin gudang pendingin listriknya nggak ada. Jadi memang harus ada pendekatan yang berkesinambungan. Listrik ada, baru yang lain bisa dibangun," tutupnya. (hns/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads