Harga Bahan Pangan Naik, Mendag: karena Keputusan Mendadak Tutup Impor

Harga Bahan Pangan Naik, Mendag: karena Keputusan Mendadak Tutup Impor

Michael Agustinus - detikFinance
Selasa, 02 Feb 2016 17:18 WIB
Harga Bahan Pangan Naik, Mendag: karena Keputusan Mendadak Tutup Impor
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - HargaΒ  bahan pangan mulai dari beras, jagung, daging ayam, daging sapi, bawang merah, bawang putih, cabai mengalami kenaikan di Januari 2016. Kenaikan harga pangan merupakan salah satu pendorong utama inflasi bulan lalu.

Menteri Perdagangan Thomas Lembong mengungkapkan sejumlah penyebab kenaikan harga pangan. Untuk daging sapi, Lembong menyebut kebijakan Kementerian Pertanian (Kementan) yang menutup impor sapi pada kuartal III 2015 sebagai penyebabnya.

Akibat kebijakan yang dibuat dengan mendadak tersebut, pasokan sapi bakalan yang harus digemukan selama 3-4 bulan untuk memenuhi kebutuhan pada awal 2016 terganggu. Dampaknya adalah saat ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pertama, yang paling kunci, sebetulnya masyarakat sudah tahu apa yang terjadi. Kita tahun lalu mendadak tutup impor sapi di kuartal III 2015. Dampaknya sekarang. Saya dilantik 12 Agustus lalu sudah krisis sapi," ungkap Lembong saat diskusi dengan media di Restoran Sari Minang, Jakarta, Senin (2/2/2016).

Penyebab kenaikan harga beras, menurutnya, hampir sama, yaitu akibat Kementan menahan impor sehingga impor beras terlambat dilakukan, harga beras sudah terdongkrak naik.

"Kita juga mendadak tutup impor beras, melarang keras impor beras, harga jadi langsung naik," ucapnya.

Kenaikan harga jagung pun juga disebabkan kebijakan Kementan yang menutup impor tanpa memperhatikan ketersediaan di dalam negeri. Akibatnya harga ayam dan telur juga ikut naik karena jagung merupakan bahan baku utama pakan ternak.

"Di Desember impor jagung ditahan, harga jagung langsung melonjak. Tentu harga ayam dan telur ikut melonjak," tutur Lembong.

Dirinya berpendapat bahwa regulasi-regulasi seperti itu justru menimbulkan kekacauan pasar. Kebijakan yang tujuannya mengendalikan impor malah membuat harga pangan meroket. Tanpa intervensi macam-macam, harga pangan justru stabil dan produksinya naik, misalnya kedelai.

"Contoh kontras adalah kedelai. Nggak diapa-apain harganya stabil, impornya menciut selama 5 tahun. Kalau banyak intervensi malah banyak kekacauan," cetusnya.

Swasembada pangan, sambungnya, tidak bisa dicapai dengan cara instan seperti dengan mendadak menutup impor. Swasembada pangan butuh waktu dan upaya keras, tidak bisa dipaksakan.

"Kita punya tujuan sama, meningkatkan daya saing sektor pertanian kita. Tapi dengan cara apa? Menurut saya nggak ada jalan pintas. Nggak ada peluru ajaib. Harus fundamentalnya, perbaiki irigasi, keterampilan petani, rantai pasok, logistik, angkutan dan pergudangan, struktur pasar. Itu semua butuh wkt. Makanya di Nawacita swasembada 3-4 tahun, bukan 1 tahun. Kalau impor ditutup tiba-tiba itu memaksakan swasembada," tandasnya. (hns/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads