Dirjen Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Rida Mulyana, membenarkan hal itu. Rida menyebut mahalnya harga panel surya dikarenakan tergolong teknologi baru, di mana belum banyak digunakan oleh masyarakat di dunia.
"Karena teknologi masih mahal, masih baru dibandingkan fosil, maka akan sangat logis masih lebih mahal dibanding fosil," ujarnya di kantor pusat Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Jakarta, Rabu (3/2/2016)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kan EBTKE itu kan tidak hanya berhenti di penyediaan energi, tapi juga kepada penguatan sustainability, dan di dalamnya ada lingkungan dan ini menjadi isu global. Dan kita adalah bagian dari masyarakat dunia. Jadi anggaplah itu sebagai biaya lingkungan," terang Rida.
Kementerian ESDM masih terus mengkaji solusi untuk menerapkan harga panel surya yang lebih ekonomis agar semakin banyak masyarakat dapat menggunakan energi listrik tenaga surya.
"Kita masih mengkaji terus solusinya seperti apa yang terbaik," tegasnya. (mkl/feb)











































