"Harga di petani sekitar Rp 2.700 per kilogram. Sedangkan di tingkat peternak yang memerlukan jagung untuk pakan bisa mencapai Rp 7.000 per kilogram. Jelas, mereka (peternak) berteriak," kata Amran saat berkunjung ke Desa Rambigundam, Kecamatan Rambipuji, Jember, Rabu (3/2/2016).
Amran menjelaskan, petani dirugikan dengan pembelian jagung yang rendah. Padahal, lanjut Amran, petani bekerja keras selama 120 hari untuk mendapatkan hasil tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oleh sebab itu, pihaknya menginginkan agar Badan Urusan Logistik (Bulog) di setiap daerah ikut menyerap komoditas jagung. Dia menginginkan agar pembelian jagung petani harus lebih tinggi dibandingkan pembelian pedagang besar.
"Saya meminta agar Bulog menaikkan pembelian jagung petani dengan selisih Rp 50 per kilogram. Jadi, kalau pedagang menawar Rp 4.200 per kilogram, Bulog harus bisa menawar Rp 4.250 per kilogram," katanya.
"Tetapi jika pedagang sudah menawar jagung petani sebesar Rp 5.000 per kilogram, maka Bulog berhenti dulu. Harga itu sudah bagus dan kita tunggu harga pedagang turunlagi," imbuh Amran.
Dia meminta para petani jagung untuk tenang pasca panen jagung. Pasalnya, Bulog merupakan pasar aman yang dapat menyerap komoditas jagung petani. Selain itu, bagi para peternak, apabila harga beli jagung di pasaran umum terlalu tinggi, mereka juga dapat membelinya di Bulog.
"Saya harap, Bulog Sub Divre Jember siap untuk melayani pembeli dan peternak kecil di Jember. Kalau bisa, peternak bermodal besar dipending dulu pembeliannya. Kita dahulukan rakyat kecil," tandasnya.
Sementara itu, Kepala Bulog Sub Bagian Divisi Regional (Divre) XI Jember, Khozin, mengatakan, selain gabah dan beras, pihaknya sudah siap membeli jagung dari petani. Penyaluran jagung ke masyarakat dilakukan lewat Operasi Pasar (OP).
"Kami buka OP untuk masyarakat sebesar Rp 3.700 per kilogram. Kami siap melayani peternak di Jember," tegas Khozin. (hns/hns)










































