"Masalah teroris sangat penting. Karena tokoh yang menjadi sentral dalam masalah teroris banyak bermain di Indonesia," ungkap Luhut dalam CIMB Niaga Economic Forum di Hotel Ritz Carlton, SCBD, Jakarta, Kamis (4/2/2016).
Luhut menjelaskan, terorisme ini sudah menjadi persoalan global. Tidak hanya di Indonesia, banyak negara merasa terancam atas kehadiran teroris. Maka dari itu, dalam beberapa kesempatan pertemuan dunia, persoalan ini terus dibahas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Masalah teroris ini adalah masa global, dan sama-sama harus menanggulangi, tidak bisa sendiri-sendiri," imbuhnya.
Fokus pemerintah adalah menjaga agar paham radikalisme yang ada di negara lain tidak sampai ke Indonesia. Luhut menyampaikan, beberapa waktu lalu sudah ada dua rombongan yang berangkat ke Timur Tengah bergabung dengan organisasi radikal.
"Sekarang ini ada dua kali jumlah kelompok dari Indonesia bergabung organisasi garis keras di Timur Tengah. Macam-macam alasannya. Itu banyak dari Eropa penyumbangnya," kata Luhut.
Banyak cara memang yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tersebut, menarik orang untuk bergabung. Salah satunya melalui media sosial yang bisa menambah berbagai kalangan, dari sisi umur, pendidikan dan tingkat ekonomi.
Dari dalam negeri, berbagai pendekatan dilakukan oleh pemerintah. Misalnya, dengan menjaga ketat para terorisme yang sudah berada di LP Nusa Kambangan. Kelompoknya akan dibedakan dengan dengan para kriminal lainnya untuk menghindari interaksi langsung.
"Mereka 4 orang ada di Nusa Kambangan. Selama ini mereka tidak diurus, jadi bebas. Sekarang dikelompokkan sendiri-sendiri. Mereka pun nanti dibedakan, kelompok garis keras sampai dengan simpatisan," terangnya.
Komunikasi dengan unit pemerintahan daerah juga terus ditingkatkan. Baik dari Gubernur, Wali Kota dan Bupati, hingga kepala desa. Ini bisa sekaligus menjawab informasi yang simpang siur soal keagamaan dan kelompok yang berkembang di wilayah tersebut.
Terkait dengan serangan terorisme di Thamrin, Jakarta beberapa waktu lalu, Luhut membantah bahwa itu disebut kecolongan. Dari beberapa waktu lalu, sebenarnya sudah diketahui rencana tersebut, maka sejak Desember 2015 dilakukan peningkatan keamanan.
"Kita sejak Desember sudah tahu, makanya diperintahkan adanya siaga 1. Namun yang kita tidak tahu adalah, kapan di mana dan bagaimana tepatnya dan itu intelijen diseluruh dunia juga tidak tahu. Amerika Serikat (AS), Inggris, Perancis. Mereka tidak tahu," papar Luhut
Meski demikian, kejadian di Thamrin bisa ditangani dengan sangat cepat. Hanya membutuhkan waktu beberapa menit. Koordinasi antara pemerintah, kepolisian dan pihak terkait lainnya bisa berjalan tanpa hambatan sekaligus pengambilan keputusan.
"Serangan teroris Thamrin adalah operasi cepat di dunia. Maka layaknya kita apresiasi tindakan teman polisi," tegas Luhut.
Sekarang, pengetatan kemananan masih dilakukan. Apalagi dengan adanya perayaan Imlek pada pekan depan. Luhut memastikan bahwa ancaman memang akan selalu ada, akan tetapi pemerintah memastikan hal tersebut di bawah kontrol.
"Indonesia di bawah kontrol, ada ancaman iya, tapi kita bisa kendalikan. Bapak-bapak nggak usah khawatir," tukasnya. (mkl/drk)











































