Ketua Umum Federasi Masyarakat Perunggasan Indonesia (FMPI), Don Utoyo, menuturkan bahwa pakan ternak yang beredar di pasar saat ini masih mahal karena menggunakan jagung yang dibeli beberapa bulan terakhir dengan harga tinggi.
"(Menurunkan harga pakan) Tidak seperti membalikan telapak tangan. Pakan yang sekarang beredar pakai bahan baku jagung yang dibeli beberapa bulan terakhir dengan harga tinggi," kata Don melalui pesan singkat kepada detikFinance di Jakarta, Jumat (5/2/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harga baru masih akan dihitung oleh masing-masing pabrikan dan pencampur sendiri (self-mixer) pakan, antara lain kerugian-kerugian akibat kelangkaan dan tingginya harga jagung, biaya-biaya yang harus dikeluarkan akibat tertahan lamanya jagung, demurrage, dan sebagainya," tuturnya.
Pihaknya berharap pemerintah memperbaiki data produksi jagung di dalam negeri agar kebijakan-kebijakan yang diambil tidak lagi salah perhitungan.
Penutupan impor jagung pada Desember 2015-Januari 2016 yang didasari oleh data bahwa produksi jagung di dalam negeri surplus mengakibatkan peternak harus menanggung biaya pakan yang tinggi, masyarakat juga dirugikan karena harus membeli daging ayam dengan harga mahal.
"Sayang, akibat kebijakan yang salah, dampak-dampaknya sangat luas. Data-data di lapangan harus rasional agar ke depan tidak terulang lagi," tutupnya. (hns/hns)











































