ADVERTISEMENT

Data Surplus 10 Juta Ton Beras Diragukan, Ini Respons Kementan?

Michael Agustinus - detikFinance
Sabtu, 06 Feb 2016 16:50 WIB
Foto: rengga sancaya
Jakarta - Menurut data Kementerian Pertanian (Kementan), produksi padi Indonesia pada 2015 lalu mencapai 74,99 juta ton gabah kering giling atau setara dengan 43 juta ton beras. Dengan asumsi konsumsi beras nasional sebanyak 33 juta ton, ada surplus 10 juta ton di atas kertas.

Tapi nyatanya Indonesia masih membutuhkan beras impor untuk memperkuat stok milik Perum Bulog. Sebanyak 1,5 juta ton beras diimpor dari Vietnam dan Thailand untuk stok Bulog pada awal 2016.

Meski sudah ada pasokan beras impor, harga beras di dalam negeri masih saja mengalami kenaikan, tidak benar-benar stabil. Di Januari 2016 ini, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa kenaikan harga beras secara nasional merupakan salah satu penyumbang inflasi.

Klaim surplus beras 10 juta ton pun dipertanyakan oleh banyak pihak, termasuk Menteri Perdagangan Thomas Lembong. Bila benar ada surplus 10 juta ton beras, harusnya harga stabil dan tidak perlu ada impor untuk memperkuat stok Perum Bulog.

Menjawab keraguan tersebut, Kementerian Pertanian merujuk hasil survei Sucofindo bekerjasama dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag) tahun 2007-2011 untuk menjelaskan keberadaan sebaran stok beras 2015.

Kepala Pusat Data dan Informasi Kementan Suwandi, menjelaskan bahwa survei Sucofindo dilakukan sesaat setelah musim kemarau maupun setelah musim panen. Data stok beras terdiri dari stok yang ada di masyarakat dan stok di Pemerintah/Bulog. Stok beras di masyarakat terdiri dari stok di produsen/petani.

Kemudian, stok di pedagang mencakup yang pedagang pengumpul, penggilingan, koperasi, grosir, pengecer, supermarket, dan lainnya. Lalu, stok di konsumen yang mencakup konsumen rumah tangga umum, rumah tangga khusus, rumah makan besar, rumah makan kecil, hotel, restoran dan lainnya.  

Jumlah stok beras berbeda-beda antar pelaku dan berbeda pula antar waktu/musim.

"Survei Sucofindo setelah musim kemarau, periode Oktober 2010, menghasilkan data stok di produsen 64,21%, di pedagang 24,29% dan di konsumen 11,5%. Sedangkan survei setelah panen raya, Juni 2011 menyebutkan stok di produsen 81,51%, di pedagang 9,02% dan di konsumen 9,47%.  Hasil survei ini berguna untuk menjawab keberadaan sebaran surplus beras yang ada di masyarakat dan di Bulog," kata Suwandi dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Sabtu (6/2/2016).

Berdasarkan perhitungan Neraca Beras tahun 2015, dia melanjutkan, diperoleh ketersediaan beras surplus 10,25 juta ton beras.  Mengingat perhitungan neraca beras sudah termasuk penyerapan beras PSO dan komersial Bulog 2015 sebesar 2,7 juta ton, maka ketersediaan surplus beras di masyarakat menjadi 7,55 juta ton.

"Menghitung sebaran surplus beras di masyarakat 7,55 juta ton dengan menggunakan hasil survei Sucofindo periode Oktober 2010, diperoleh sebaran stok berada di produsen/petani 4,85 juta ton (64,21%), di pedagang 1,83  juta ton (24,29%) dan di konsumen 0,87 juta ton beras (11,5%).  Kondisi sebaran stok ini dinamis antar waktu, dimana stok beras di produsen akan jauh lebih banyak lagi bila panen raya tiba. Hasil survei ini juga bisa untuk menghitung lebih detail lagi sebaran stock baik yang ada di penggilingan, grosir, pengecer, restoran, hotel dan lainnya," Suwandi menerangkan.

Pihaknya juga menegaskan bahwa saat ini beras tersedia dalam jumlah aman di dalam negeri. Buktinya, stok Bulog masih 1,4 juta ton dan pasokan beras per hari ke Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) masih normal.

"Stok Bulog ini cukup aman di saat menjelang panen raya sekarang. Indikator ketersediaan beras dapat dilihat dari besarnya pemasukan beras harian di PIBC. Pemasukan beras PIBC  tahun 2015 lebih tinggi dari 2014, demikian juga pemasukan beras per bulan Januari 2016 lebih tinggi dari Januari 2015," pungkasnya. (hns/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT