Pakai Limbah Pertanian, Kompor Ini Lebih Hemat dari LPG

Pakai Limbah Pertanian, Kompor Ini Lebih Hemat dari LPG

Michael Agustinus - detikFinance
Kamis, 11 Feb 2016 14:20 WIB
Pakai Limbah Pertanian, Kompor Ini Lebih Hemat dari LPG
Foto: Michael Agustinus
Nusa Dua - Berbagai produk inovatif yang menggunakan energi terbarukan dipamerkan dalam acara Bali Clean Energy Forum (BCEF) di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC) hari ini.

Salah satunya adalah kompor yang menggunakan bahan bakarpellet dari aneka limbah pertanian seperti jerami, bonggol jagung, dan serbuk kayu.Kompor ini merupakan salah satu produk yang dikembangkan oleh PT Perusahaan Gas Negara (PGN) untuk mendukung penggunaan energi terbarukan di Indonesia.


Maesah Anggni, penjaga stan PGN, menuturkan bahwa kompor pellet ini jauh lebih hemat dibandingkan dengan kompor minyak tanah. Bahkan dibandingkan kompor gas yang menggunakan LPG 3 kg, kompor ini masih bisa lebih hemat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau sama kompor minyak tanah pasti lebih hemat. Kalau sama LPG yang disubsidi bersaing. Kita menghitung di 3 provinsi, rata-rata tiap rumah tangga masak 2 jam per hari. Itu habis Rp 2.000/hari kalau pakai LPG. Kalau pakai ini per hari butuh 1 kg pellet, harganya Rp 1.500," papar Maesah saat ditemui detikFinance diBNDCC, Bali, Kamis (11/2/2016).


Selain itu, bahan baku pellet bisa didapat dengan mudah di desa-desa di Indonesia. Bahan bakunya pun terbarukan, tidak akan habis seperti halnya gas dan minyak bumi.

"Penduduk desa juga mendapat nilai tambah dari pengolahan limbah pertanian menjadi pellet," dia menambahkan.

Untuk menggunakan kompor ini, pellet harus dimasukan dalam tabung yang berada di tengah kompor. Ada 2 tabung yang berbeda kapasitas di dalam kompor ini, yang satu berkapasitas 3 ons pellet dan 1 lagi 7 ons pellet.

Pellet harus dimasukan sesuai dengan keperluan. Untuk masak air misalnya, cukup gunakan tabung yang berkapasitas 3 ons pellet.

"Isi 3 ons untuk goreng-goreng, bikin kopi, untuk yang masak kurang dari 1 jam. Kalau isi 7 ons untuk lebih dari 1 jam. Masak air pakai kompor ini cuma 24 menit," tutur Maesah.

Kelemahan kompor ini adalah butuh pemantik untuk menyalakannya. Pellet tidak bisa langsung dibakar dengan sendirinya untuk bahan bakar, harus ada pemantik seperti minyak goreng atau spiritus.

"Masih butuh pemantik. Kita sarankan pakai sedikit spiritus. Satu liter spiritus bisa untuk 6 bulan. Atau minyak goreng," ucapnya.

Kompor pellet juga masih harus diimpor. Sebenarnya sudah ada yang bisa memproduksinya di Indonesia, namun masih perlu penyempurnaan desain.

"Di Indonesia sudah ada yang buat, tapi sebagian besar masih impor. Yang lokal sedang penyempurnaan desain," Maesah menuturkan.

Harga kompor ini sekitar Rp 1 juta per unit bila dijual di pasaran. PGN berencana membagikan 12.000 kompor pellet pada tahun ini.

Sampai saat ini sudah 40 kompor pellet yang dibagikan di Bali, yakni di Kabupaten Jembrana dan Kabupaten Tabanan.

"Kompor harganya 1 juta. Di Bali kita bagi gratis 40, di Jateng dan Jatim juga 40. Rencana tahun ini dibagikan 12.000 kompor plus pellet gratis untuk 2 bulan," tutupnya. (ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads