Sekjen Indonesian National Air Carriers Association ( INACA), Tengku Burhanuddin mengatakan, dampak yang ditimbulkan terhadap penurunan ini akan terasa industri penerbangan nasional saat peak season.
"Untuk low season (hari biasa) dampak penurunan tidak akan teras. Tapi saat peak season (musim puncak perjalanan) setiap maskapai akan ambil tarif batas semua dan ketika itu penyesuaian tarif ini akan sangat terasa," ujar Tengku di Kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Kamis (11/2/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini masih bisa dikoreksi lagi, situasi harga avtur dan kurs rupiah terhadap dolar masih berubah. Bisa jadi naik bisa jadi turun nanti tarif batas atas dan bawahnya. Tadi pagi Rp 13.366/US$ sekarang bisa berubah cepat. Tentunya akibat fluktuasi rupiah harga avtur juga bisa cepat berubah, meskipun harga minyak dunia yang terus anjlok," tuturnya.
Situasi seperti ini dianggap maskapai penerbangan sebagai hal yang mengganggu karena tidak ada kepastian usaha akibat tarif yang naik turun terlalu cepat.
Untuk itu, ia mengharapkan peran aktif Pemerintah dalam bentuk intervensi agar harga avtur dan nilai tukar rupiah tidak naik turun terlalu cepat sehingga merugikan industri penerbangan.
"Kalau semua stabil kan lebih enak. Kita minta pemerintah stablikan pergerakan rupiah," pungkasnya. (dna/ang)










































