Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal BKPM, Azhar Lubis mengungkapkan, meski ada beberapa perusahaan yang menyatakan ketidaknyamanannya dengan dualisme kepengurusan dalam tubuh otoritas pengelolaan kawasan Batam, hal tersebut belum berpengaruh pada rencana keluarnya perusahaan.
"Nggak benar itu, mana angkanya? Mana saja perusahaannya? Memang di Batam ini mau ada restrukturisasi, tapi di sisi lain kepastian investor masih bagus, bahkan ditingkatkan terus, belum ada yang masuk ke kita mau pindah," katanya ditemui di Hotel Grand Mercure, Kemayoran, Jakarta, Senin (22/2/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Wajar saja bahwa investor bertanya-tanya, tapi yah tadi perusahaannya nggak kemana-kemana. Kita komunikasi terus dengan mereka,
Sebelumnya, Staf Ahli Menteri Dalam Negeri, Nuryanto, mengatakan saat ini sekitar 30% perusahaan ingin keluar dari Batam.
Alasan, iklim bisnis di Batam sudah tidak kompetitif. Di sisi lain, ada negara lain seperti Malaysia dan Vietnam menawarkan kondisi lebih baik.
"30% ingin keluar. Ada negara lain yang lebih baik manajemennya, kita tahu Malaysia menawarkan yang lebih baik, Vietnam lebih baik," ujar Nuryanto.
Dia mengatakan, perusahaan yang ingin keluar dari Batam antara lain bergerak di sektor otomotif dan elektronik. Namun, Nuryanto mengaku belum bisa memastikan berapa jumlah perusahaan yang ingin keluar itu.
Dia menambahkan, pemerintah sedang berusaha memperbaiki manajemen di Batam. Seperti diketahui, saat ini pemerintah sedang berusaha memperbaiki masalah dualisme pengelolaan Free Trade Zone atau Kawasan Perdagangan bebas di Batam.
"Mudah-mudahan dengan pembenahan manajemen ini mereka mengurungkan niatnya (keluar dari Batam)," ujar Nuryanto (feb/feb)











































