Di Depan Investor Asing, Nadiem Cerita Pengalaman Mendirikan Go-Jek

Di Depan Investor Asing, Nadiem Cerita Pengalaman Mendirikan Go-Jek

Dana Aditiasari - detikFinance
Kamis, 25 Feb 2016 20:35 WIB
Di Depan Investor Asing, Nadiem Cerita Pengalaman Mendirikan Go-Jek
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Hari ini, pendiri sekaligus CEO Go-Jek, Nadiem Makarim berkesempatan menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk The Economist Events Indonesia Summit 2016, di Ball Room Hotel Shangri La, Jakarta.

Pada diskusi yang dihadiri ratusan pelaku usaha dan asosiasi internasional, Nadiem mendapat banyak pertanyaan seputar kiprahnya mendirikan perusahaan yang begitu terkenal saat ini di Indonesia.

"Tolong ceritakan pengalaman dan latar belakang anda mendirikan perusahaan Go-Jek yang berbasis digital," tanya moderator diskusi Robert Guest dalam diskusi tersebut, Kamis (25/2/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mendapat pertanyan tersebut, Nadiem dengan antusias menceritakan pengalamannya.

"Awalnya saya melihat masalah transportasi di Jakarta. Sangat padat dan sangat tidak nyaman untuk berlalulintas dengan kendaraan roda empat karena terlalu macet. Ojek adalah salah satu solusi yang kebetulan saat itu sudah menjadi pilihan masyarakat Jakarta," ujar dia menanggapi.

Sayang, lanjut Nadiem, transportasi ojek ini memiliki segudang permasalahan. Masalah yang dihadapi seringkali terkait tarif yang dianggap tidak masuk akal lantaran pengemudi ojek sering menerapkan tarif yang terlalu tinggi.

Nadiem pun menceritakan bagaimana pengalamannya menggunakan ojek. "Saya ditembak tarif mahal padahal jaraknya dekat," sambung dia.

Seiring berjalannya waktu, ia pun mengaku menemukan permasalahan yang mendorong pengemudi ojek akhirnya menerapkan harga tinggi terhadap para penumpangnya.

"Karena mereka bisa dikatakan jarang mendapat order. Jadi begitu mereka mendapat penumpang, itu kesempatan mereka untuk memeras para penumpang dengan tarif yang tinggi. Karena bila tidak, belum tentu mereka mendapat penumpang berikutnya," kata dia.

Berbekal pengetahuannya di dunia digital, Nadiem pun menceritakan inisatifnya membuat sebuah aplikasi selular yang memungkinkan ojek dan penumpangnya bisa bertemu dengan lebih mudah.

Lewat aplikasi yang kini disebut Go-Jek, saat banyak masyarakat di Jakarta bahkan di sejumlah kota lain di Indonesia bisa memanggil ojek melalui aplikasi ini. Keuntungan bagi tukang ojek sendiri, mereka tidak perlu menunggu penumpang datang karena permintaan ojek mereka bisa diakses melalui telepon selular dengan mudah.

"Mereka nggak perlu tunggu-tunggu lagi. Karena menunggu itu ada cost-nya. Karena nggak perlu menunggu, sekarang mereka bisa memperoleh pendapatan yang lebih layak dan tidak asal tembak tarif lagi," tutur dia.

Belajar dari pengalaman ini, sambung dia, layanan digital adalah masa depan Industri. "Market place seperti Lazada dan Matahari Mall, itu bisa berkembang dengan layanan digital. Masyarakat bisa lebih mudah belanja. Memang di masa depan, digital ini jadi tumpuan," pungkas dia. (dna/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads