Investasi Pariwisata Lebih Murah Ketimbang Sektor Migas

Investasi Pariwisata Lebih Murah Ketimbang Sektor Migas

Ardhan Adhi Chandra - detikFinance
Jumat, 26 Feb 2016 19:29 WIB
Investasi Pariwisata Lebih Murah Ketimbang Sektor Migas
Foto: (Sastri/detikTravel)
Jakarta - Pemerintah terus mengembangkan sektor pariwisata di Indonesia agar lebih menarik di mata para wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Investasi di sektor pariwisata ternyata lebih murah namun memiliki multiplier effect yang tinggi, dibandingkan berinvestasi di sektor minyak dan gas.

"Pariwisata ini sedang digenjot dengan Pak Presiden. Sederhananya saja, kalau untuk membuka peluang tenaga kerja 1 orang di oil and gas itu harus investasi US$ 50.000 misalnya, tapi kalau pariwisata tuh dengan investment per US$ 3.000 itu ada penambahan 1 tenaga kerja," ujar Deputi Bidang Usaha Energi, Logistik, dan Pariwisata Kementerian BUMN, Edwin Hidayat Abdullah dalam konferensi pers di Kantornya, Jakarta, Jumat (26/2/2016).

Terkait hal itu, Edwin menyebutkan, untuk mendorong terciptanya sektor pariwisata yang menarik, perlu adanya kerjasama dengan berbagai pihak. BUMN sendiri melalui BUMN yang bergerak di bidang destinasi, perlu memetakan berbagai rencana agar sektor wisata di Indonesia lebih menarik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau dilihat pariwisata di bidang apa ya? Fungsi dari accessibility, jadi orang itu mau datang ke sana kalau ada transportasinya, ada pesawatnya, ada kapalnya, ada petanya, ada pelabuhannya, ada stasiunnya, ada airport nya," katanya.

Misalnya Yogyakarta. Para wisatawan berdatangan karena ingin menikmati budayanya. Begitu juga dengan Bali dan Lombok.

"Kenapa orang mau datang ke Jogja? Karena dia mau berwisata budaya. Kenapa dia datang ke Bali atau Lombok? Karena mau menikmati alam, atau watersport atau ke pantai. Tapi tanpa adanya destinasi, attraction tidak akan mungkin terjadinya pariwisata," jelas dia.

Edwin menambahkan, pariwisata juga harus dipromosikan dengan baik. Selain itu, konsep pariwisata juga harus terintegrasi.

"Konsep wisata itu harus terintegrasi. Tahun lalu saya mengumpulkan bumn untuk melakukan sinergi. Strategic allignment, keselarasan dalam strategi pengembangan. Kita harus join effort," pungkasnya. (drk/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads