Mimpi Rustono 'Raja Tempe' di Jepang: Tempe Jadi Makanan Dunia

Mimpi Rustono 'Raja Tempe' di Jepang: Tempe Jadi Makanan Dunia

Dana Aditiasari - detikFinance
Senin, 29 Feb 2016 17:55 WIB
Mimpi Rustono Raja Tempe di Jepang: Tempe Jadi Makanan Dunia
Foto: Cindy Audilla
Jakarta - Rustono, kelahiran Grobogan, Jawa Tengah, sudah berhasil men-tempe-kan Jepang selam hampir 19 tahun. Tak puas dengan itu, mimpi Rustono pun berkembang, yaitu ingin men-tempe-kan Dunia.

"Saya nggak puas kalau cuma satu negara. Saya ingin tempe sebagai makanan dunia. Saya ingin men-tempe-kan dunia," kata Rustono bersemangat saat ditemui di Gedung Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Jakarta, Senin (29/2/2016).

Benar saja, saat ini selain di Jepang, usaha tempenya sudah merambah ke sejumlah negara seperti Meksiko, Hongaria, Prancis dan Polandia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sekarang sudah tersebar di 7 negara. Saya kembangkan dengan metode yang sama dengan yang saya lakukan di Jepang. Sekarang saya mau buka di satu negara lagi, di Rusia," tutur dia.

Berbagai masyarakat di dunia, diakui Rustono ternyata sangat menerima tempe sebagai satu produk makanan berkualitas. Kebanyakan negara yang telah disinggahi Rusto's Tempeh menerima tempe sebagai panganan pengganti daging.

"Seperti rekan saya di Rusia juga, terpikir tempe karena vegetarian. Bagi mereka, tempe itu makanan ajaib. Dia itu produk nabati namun punya kandungan yang tak kalah dengan daging," tuturnya.

Berbagai kajian ilmiah memang telah membuktikan bahwa tempe mengandung unsur-unsur gizi yang dimiliki produk hewani namun tidak dimiliki produk nabati. Unsur gizi yang dimaksud diantaranya adalah vitamin B 12.

Rustono menambahkan, di setiap negara yang terdapat Rusto's Tempeh, produksi yang dilakukan juga masih menggunakan ragi dan mesin dari Indonesia. Ia menjadikan hal tersebut standar bagi calon mitranya yang ingin mendirikan usaha pembuatan tempe di mancanegara.

Ia punya alasan sendiri mengapa masih menggunakan ragi dari Indonesia meskipun di negeri sakura sendiri sudah ada produsen ragi.

"Di Jepang sudah banyak yang produksi tempe, tapi nggak pakai ragi dari Indonesia. Rasanya pun beda, nggak seperti kita punya ragi. Kalau dibuat pakai ragi dari Indonesia, itu dari kamar fermentasi kalau pintunya dibuka langsung tercium aroma tempenya. Rasanya pun lebih nikmat," tutur dia.

Sedangkan untuk mesin produksi dibeli dari Indonesia karena harganya lebih murah. Rustono mengatakan, harga mesin produksi Indonesia sekitar Rp 90 juta per unit.

Sedangkan di Jepang harganya Rp 600 juta per unit. Padahal, kualitas mesin maupun produk yang dihasilkan sama.

"Saya sudah 12 tahun pakai mesin dari Indonesia. Dan saya harus akui produk Indonesia itu bandel (andal). Lagi pula kalau sudah terstandar, perawatan juga lebih mudah. Misalnya ada mesin di Meksiko rusak, saya tinggal komunikasi saja menggunakan skype. Dia tunjukkan kerusakannya di mana, saya tujukkan baut sebelah mana yang harus dikencangkan. Masalah selesai," papar dia.

Langkah yang dilakukan Rustono ini mendapat apresiasi dari Kepala Badan Kordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani.

"Kalau ada investasi asing datang ke Indonesia, mereka harus mendatangkan barang modal ke Indonesia. Ini malah membantu Indonesia mengekspor barang modal, buatan asli Indonesia, ke luar negeri. Ini hebat sekali," kata Franky dalam kesempatan yang sama.

Kedatangan Rustono ke Indonesia hari ini dalam rangka mendampingi rekannya dari Rusia yang ingin mendirikan pabrik tempe di negaranya. Rustono dan rekan Rusianya ingin mendatangi langsung tempat produsen mesin asal Indonesia yang telah membantu Rustono dalam memproduksi tempe dan dipasarkan ke berbagai negara. (dna/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads