Deputi Bidang Pengendalian dan Pelaksanaan Penanaman Modal BKPM, Azhar Lubis mengungkapkan, dari 200 proyek tersebut, 22 proyek merupakan proyek pembangkit listrik, dan baru 5 pembangkit yang telah selesai konstruksi.
Masih ada 17 lagi pembangkit listrik yang masih dalam tahapan konstruksinya. Lamanya proses pembangunan konstruksi pembangkit ini disebabkan masalah jaringan transmisi yang belum siap.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sementara pembangkit listrik lokasinya biasanya jauh, karena seperti batu bara harus punya pelabuhan sendiri, yang jaraknya 5-10 kilometer dari jaringan yang ada," tambahnya.
Di sisi lain, lanjut Azhar, membangun transmisi juga terkendala banyak masalah, terutama masalah pembebasan lahan.
"Waktu bangun tower listrik kan harus bebaskan lahan juga. Ini makanya kita bantu koordinasikan perencanaan pembangunannya dan transmisi dari PLN," ujarnya.
Masalah kedua, kata Azhar, yakni masalah kesepakatan harga daya listrik antara investor dengan PLN yang kadang bisa berlarut-larut.
"Pertama bangun pembangkit kan harus ada agreement harga listrik dengan PLN. Staf PLN mungkin terbatas sementara negosiasi harga lagi banyak, harga kan beda-beda. Di Timur berapa kilowatt kan beda dengan di Barat," tutupnya. (wdl/wdl)











































