Follow detikFinance
Senin 07 Mar 2016, 13:47 WIB

Komut Garuda Indonesia Terima Gelar Profesor dari Kampus di China

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Komut Garuda Indonesia Terima Gelar Profesor dari Kampus di China Foto: dok. Garuda Indonesia
Huangzhou - Rektor Zhejiang University of Technology and Science, menganugerahi Komisaris Utama PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), Jusman Syafii Djamal, dengan gelar profesor (kehormatan) atas sumbangsih intelektual dan perannya membangun kerja sama riset dan teknologi bagi Indonesia dan China.

Rektor Zhejiang University of Technology and Science, Cai Yuan Qiang memberikan langsung sertifikat penghargaan profesor di kampus universitas tersebut di Huangzhou, Jumat (4/3/2016).

Usai menerima gelar profesor, mantan Menteri Perhubungan itu diminta memberikan kuliah umum di hadapan 400 civitas akademik, mengenai perbandingan pengalaman Indonesia dan China selama 25 tahun dalam membangun industri teknologi maju.

Turut menyaksikan pengukuhan sebagai profesor antara lain Konsul Jenderal RI untuk Shanghai, Kenssy D Ekaningsih, Sekretaris Dewan Pertimbangan Presiden Kemal Taruc, anggota Dewan Pertimbangan Presiden Suharso Monoarfa, dan Kepala Badan Otorita Batam, Mustafa Wijaya.

"Penghargaan ini diberikan atas sumbangsih intelektual dan kerjasamanya, tetapi juga  persahabatan bagi dua negara di masa-masa mendatang," kata Cain Yuan Qiang dalam siaran pers Garuda Indonesia, Senin (7/3/2016).

Dalam pidatonya, Jusman mengatakan, akuisisi teknologi akan mendorong terciptanya kreativitas dan inovasi namun juga memunculkan perubahan struktural dan ketidakpastian dalam kehidupan karena menyangkut produk baru, investasi, profit, suplai dan mekanisme pasar.

"Di sinilah muncul dua paradigma yang dianut Indonesia dan China. Indonesia memilih pola 'technology driven' yang dilaksanakan secara bertahap, sedangkan China menganut 'market driven' yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan," kata mantan Menteri Perhubungan itu.

Pada awalnya, baik Indonesia dan China memiliki kesamaan orientasi dalam membangun teknologi majunya. Namun dalam perjalanannya, kebijakan yang diambil justru berbeda yang disebut "Indonesia Ways" dan "China Ways".

Jusman lebih jauh menceritakan latar belakang yang membuat China dan Indonesia berbeda style. China memulainya di era Deng Xiao Ping yang memilih untuk membangun daerah-daerah perkotaan (metropolitan), dan melengkapinya dengan menciptakan kawasan-kawasan khusus terpadu seperti industrial zone, areal komersial, kawasan perumahan serta industri pariwisata di mana kebutuhan pasar dan teknologi bisa bertemu.

"China dengan cepat akhirnya memiliki kawasan-kawasan khusus seperti Guandong, Shenzen, dan Fujian. Kawasan itu berkembang menjadi kawasan untuk ekspor. Kawasan-kawasan tersebut memberikan fleksibilitas untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan pasar. Proses akuisisi teknologi maju dilakukan melalui kebijakan dan mekanisme yang berlaku di pasar," katanya.

Sedangkan Indonesia, katanya, mengawali akuisisi teknologi maju dengan langsung membangun pabrik perakitan elektronik hasil kerjasama dengan perusahaan asing untuk bisa dinikmati hasilnya. Baru kemudian berlanjut ke era pembangunan industri pesawat terbang di Bandung. Hal itu dimulai dengan modal lisensi dari CASA Spanyol dan Bell Helicopter serta Superpuma dari Perancis, baru kemudian mendisain sendiri pesawat turboprop N250.

Dalam pandangan Jusman, ide menjalankan akuisisi teknologi maju baik China dan Indonesia berawal dari fenomena formasi terbang burung angsa (Flying Geese) – formasi terbang berbentuk huruf "V" yang mampu memberikan daya dukung bagi seluruh kawanan agar dapat menempuh jarak terbang 71% lebih jauh ketimbang setiap angsa harus terbang sendiri-sendiri.

"Logika dari formasi terbang burung angsa adalah menekankan pentingnya mengelola pasar secara bertahap mulai dari tahapan nasional hingga ke tahap regional yang didukung sektor terkait lainnya dalam mengembangkan suatu industri maju. Kini, saatnya baik China dan Indonesia menciptakan landskap pembangunan ekonomi bersama dengan bisnis model baru, sekaligus membangun industri teknologinya," kata Jusman. (feb/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed