Sentra kelautan dan perikanan ini merupakan lokasi bisnis terpadu yang dibangun Kementerian Kelautan dan Perikanan, untuk memasarkan ikan hasil tangkapan nelayan. Menurut Wakil Bupati Simeulue, Hasrul Edyar, sebelum ada SKPT, nelayan terpaksa membuang hasil tangkapan karena tak ada pembeli yang menampung.
Hasrul bercerita, masyarakat Simeulue sering mengeluh karena saat musim panen ikan tiba tak ada yang menampun dan membeli ikan mereka. Sehingga, hasil tangkapan banyak yang busuk dan dibuang ke laut dan atau dikubur dalam tanah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
SKPT di Simeulue dilengkapi dengan kapal operasional PK2PT, jetty apung, dermaga, cold storage berkapasitas 80 ton. Selain itu, dilengkapi juga dengan mobil pendingin, dockyard kapasitas 80 ton, pabrik es, dan pertokoan nelayan.
Hasrul menambahkan, dengan adanya SKPT, maka hasil tangkapan ikan para nelayan di Simeulue langsung bisa dijual.Tak perlu menunggu lama seperti sebelumnya hingga ikan akhirnya busuk.
"Dari program khusus yang dilaksanakan KKP ini kami sudah merasakan langsung dampak positifnya baik bagi pemda maupun masyarakat secara umum," ujar Hasrul.
Sebagai informasi, SKPT dibangun di 15 wilayah perbatasan yaitu Simeulue, Natuna, Tahuna, Saumlaki, Merauke, Mentawai. Kemudian, Nunukan, Talaud, Morotai, Biak Numfor, Timika, Saumlaki, Kisar, Rote Ndao, dan Tual. (hns/hns)











































