ADVERTISEMENT

Ada 50 Juta Orang Kaya di RI, yang Bayar Pajak Baru 23 Juta

Dana Aditiasari - detikFinance
Kamis, 10 Mar 2016 13:25 WIB
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Secara umum, tarif pajak yang diterapkan di Indonesia dipandang terlalu tinggi, sehingga membuat orang masih enggan membayar pajak. Ekonom, Aviliani mengatakan, ada baiknya pemerintah menurunkan tarif pajak untuk menarik minat masyarakat lebih patuh membayar pajak.

"Lebih penting mana, mengenakan pajak setinggi-tingginya tapi sedikit yang bayar, atau pajak rendah tapi semua orang bisa bayar?" ujar dia, dalam diskusi perpajakan di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (10/3/2016).

Perlu diketahui target penerimaan pajak di tahun ini sangat tinggi, mencapai Rp 1.360 triliun. Tahun 2015 lalu realisasi penerimaan pajak hanya sebesar Rp 1.060 triliun, di bawah target yang ditetapkan Rp 1.294 triliun.

Untuk mencapai target penerimaan pajak yang tinggi itu, pemerintah berupaya mengoptimalkan sumber-sumber pajak baru. Hal ini justru membuat masyarakat semakin antipati membayar pajak, lantaran menganggap besaran pajak yang harus ditangung menjadi semakin tinggi.

"Potensi pajak kita sebanrnya besar. Ada 50 juta orang kaya di Indonesia tapi yang jadi wajib pajak baru sekitar 23-24 juta saja. Ini kan yang perlu dipikirkan supaya yang sisanya mau bayar pajak juga," tutur dia.

Dengan menurunkan besaran pajak diharapkan lebih banyak masyarakat yang secara sukarela mau membayar pajak. Sehingga diharapkan realisasi penerimaan pajak bisa lebih baik ketimbang seblumnya.

"Jadi dari pada kita menetapkan pajak setinggi-tingginya, lebih baik tetapkan pajak yang terjangkau tapi bisa banyak yang bayar. Jadi kalau dikalkulasi nilainya lebih besar," kata Anggota Komisi XI DPR, John Erizal dalam kesempatan yang sama. (dna/wdl)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT