Alasannya, harga avtur atau BBM pesawat di Indonesia rata-rata lebih mahal 12,5% daripada avtur yang dijual di negara tetangga. Padahal, avtur berkontribusi besar terhadap biaya operasional di maskapai.
"Satu fuel, avtur di Indonesia 12,5% lebih mahal dari avtur yang dijual dari negara tetangga," kata Presiden Direktur Indonesia AirAsia, Sunu Widyatmoko saat berkunjung ke Kantor Detik, Jakarta Selatan, Senin (14/3/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Secara keseluruhan mahal, meski Cengkareng turun. Mereka (Pertamina) mencari kompensasi dari penurunan di Jakarta. Tentu saja secara korporasi, ada cross subsidi," sebutnya.
Selain itu, Indonesia masih tertinggal terkait bea masuk suku cadang pesawat. Meski Pemerintah Indonesia pada Desember 2015 telah mengeluarkan bea masuk 0%, namun itu belum berlaku untuk semua komponen.
"Bea masuk masuk di negara tetangga nggak ada. Padahal ini (avtur dan bea masuk) kunci industri airlines bersaing di pasar," sebutnya. (feb/hns)











































