Kementerian Pertanian (Kementan) mengklaim sebenarnya produksi cabai nasional mencukupi, bahkan surplus. Total panen cabai di bulan Januari mencapai 97.575 ton, lalu Februari mencapai 108.132 ton, sedangkan pada Maret 101.471 ton. Sementara kebutuhan cabai hanya 75.762 ton per bulan.
"Jadi sebenarnya mencukupi, kita sudah hitung luas tanam di berbagai daerah, itu di lapangan ada. Produksi di lapangan banyak. Ada di Enrekang, Bima, ada semua," kata Direktur Budidaya dan Pasca Panen Sayuran Kementan, Yanuardi, saat dihubungi detikFinance di Jakarta, Senin (14/3/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebenarnya ini faktor iklim juga yang menentukan, di daerah kan banyak hujan, petani jadi nggak memanen karena takut cabainya busuk. Waktu pengangkutan juga, kalau diangkut saat hujan bisa busuk," tuturnya.
Selain itu, gerhana matahari pada 9 Maret 2016 lalu juga membuat pasokan cabai tersendat. "Salah satu penyebabnya adalah gerhana. Waktu gerhana kan petani tidak memanen cabai. Akibatnya 1 hari pasokan kosong," paparnya.
Meski demikian, gangguan-gangguan tersebut harusnya tidak membuat harga cabai meroket jauh seperti saat ini. Kata Yanuardi, harga cabai di tingkat petani tak ikut naik, kenaikan hanya terjadi di pasar. Lonjakan harga sebesar sekarang tidak masuk akal, dirinya pun mengaku heran.
"Di petani di Garut harga cabai hanya Rp 26.000-27.000/kg. Tapi harga di Jakarta sampai di atas Rp 50.000/kg. Saya bingung," tutupnya. (hns/hns)










































