Abdul Hamid, salah seorang petani cabai di Jonggol, Kabupaten Bogor mengungkapkan,Β menipisnya pasokan cabai yang berdampak pada lonjakan harga cabai terjadi karena saat ini banyak petani yang kapok menanam cabai.
"Karena bulan lalu harganya cabai rawit sampai Rp 6.000-7.000/kg, orang di sini takut rugi kalau tanam lagi. Jadi sekarang barang sudah sedikit karena panen sedikit. Ibaratnya jumlah petani ada 100, pas normal petani yang panen 100 orang, sekarang yang panen katakan hanya 20 orang saja," ujarnya pada detikFinance, Senin (14/3/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau cabai-cabai panen sekarang itu rata-rata dari petani yang tanam di lahan yang sedikit, modalnya juga nggak gede. Kalau yang biasa tanam di lahan luas pada nggak berani dulu, takut masih jatuh harganya. Sekarang malah naik lagi. Saya kemarin baru jual rawit Rp 48.000/kg karena kualitasnya bagus," jelasnya.
Sebelumnya, Kementerian Pertanian menyebut kenaikan harga cabai bukan terjadi karena produksi yang menurun, melainkan karena ada malasah pada tata niaga.
Sekretaris Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan), Yazid Taufik menegaskan, produksi cabai maupun bawang merah di petani sangat mencukupi. Permainan harga di tingkat pedagang, menurutnya, jadi penyebab harga dua komoditas pangan itu melonjak tajam.
"Perlu dicatat yang terjadi itu gejolak harga, tapi existing produksi dan panen mendatang bawang dan cabai normal. Perbedaan lebar di petani dan pedagang ritel penyebabnya karena ada yang mainkan," katanya kemarin. (hns/hns)











































