Potong Jaringan 'Makelar', Kementan Bisa Jual Cabai dan Beras Murah

Potong Jaringan 'Makelar', Kementan Bisa Jual Cabai dan Beras Murah

Michael Agustinus - detikFinance
Selasa, 15 Mar 2016 10:52 WIB
Potong Jaringan Makelar, Kementan Bisa Jual Cabai dan Beras Murah
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) pagi ini menggelar pasar murah cabai, bawang merah, dan beras di 3 lokasi di DKI Jakarta, yaitu di Pasar Minggu (depan Mall Ramayana), Pasar Pondok Labu (depan pasar), dan Gedung Central Promosi dan Pemasaran Produk Pertanian Jakarta Selatan (depan SMA 28 Jakarta).

Dalam pasar murah ini, masyarakat bisa mendapatkan cabai dengan harga Rp 30.000/kg, bawang merah seharga Rp 25.000/kg, dan beras Rp 7.500/kg.

Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan, Gardjita Budi, menuturkan bahwa ketiga komoditas tersebut bisa dijual murah dengan cara memotong rantai pasokan (supply chain) yang amat panjang. Rantai panjang ini melibatkan pedagang besar hingga makelar alias distributor.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Komoditas pangan dibeli langsung oleh Kementan dari para petani yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan).

"Kita dapat dari Gapoktan, ditambah ongkos transportasi ke Jakarta, lalu bisa kita jual murah di Jakarta," kata Gardjita saat dihubungi detikFinance di Jakarta, Selasa (15/3/2016).

Cabai dibeli dengan harga Rp 28.000/kg dari Gapoktan, bawang merah Rp 20.000/kg, dan beras Rp 7.100/kg-Rp 7.300/kg. Semuanya dibeli langsung dari Gapoktan di Garut, Banten, dan Sukabumi tanpa perantara.

"Kita ambil dari Gapoktan sehingga rantai pasokan terpotong. Dengan begitu harga di petani bisa naik, tapi harga di masyarakat turun. Tanpa harus menginjak harga di petani, harga bisa turun," paparnya.

Panjangnya rantai pasokan merupakan masalah utama yang membuat harga pangan di Indonesia mahal dan tak stabil. Bila masalah rantai pasokan bisa diatasi, dirinya yakin harga pangan bisa stabil dan terjangkau.

"Jadi perlu perbaikan supply chain, jangan harga di petani diinjak rendah, tapi masyarakat juga dirugikan karena harga mahal di masyarakat," pungkasnya.

Solusi dari Kementan Putus Rantai Panjang Pasokan Pangan

Panjangnya rantai pasokan disebut oleh Kementan sebagai masalah utama yang membuat harga pangan di Indonesia mahal dan tak stabil.

Selain menggelar pasar murah, Kementan merancang solusi jangka panjang untuk stabilisasi harga pangan. Gardjita mengungkapkan bahwa pihaknya akan membangun Toko Tani Indonesia (TTI) untuk solusi permanen jangka panjang. Tahun ini, direncanakan dibangun 1.000 unit TTI di seluruh Indonesia.

"Pasar murah tentu tidak bisa menurunkan harga, hanya trigger saja. Untuk jangka panjang, tahun ini akan dibangun 1.000 unit TTI. Kalau ini (TTI) tentu ada efeknya, bisa mempengaruhi pasar secara psikologis," papar Gardjita.

TTI akan bekerjasama dengan Gapoktan-Gapoktan di seluruh Indonesia untuk memenuhi pasokan pangan.

"TTI lebih permanen dari pasar murah. TTI akan kerjasama dengan Gapoktan, beli langsung dari Gapoktan, arahnya ke sana. Jadi Gapoktan bisa untung, tapi rakyat juga untung karena TTI menjual dengan harga di bawah harga pasar," cetusnya.

Berbeda dengan pasar murah, TTI akan berjualan sepanjang tahun. Dengan TTI yang tersebar di mana-mana, masyarakat bisa memperoleh pangan dengan harga stabil dan terjangkau.

"Itu untuk stabilisasi harga, ini sedang kita coba," ucap Gardjita.

"Prinsipnya jual murah. Harga di petani bisa naik, tapi masyarakat juga bisa mendapatkan pangan dengan harga murah. Jadi semuanya untung," tutupnya. (feb/feb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads