Jepang Hibahkan Proyek Rp 10 M ke RI

Jepang Hibahkan Proyek Rp 10 M ke RI

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Senin, 21 Mar 2016 16:35 WIB
Jepang Hibahkan Proyek Rp 10 M ke RI
Foto: Ardan Adhi Chandra
Jakarta - Pemerintah Jepang hari ini menandatangani proyek hibah grassroots yang diberikan ke 9 lembaga non pemerintah. Nilainya mencapai 88,84 juta yen atau sekitar Rp 10,5 miliar.

Bantuan hibah ini hanya bisa diberikan ke lembaga non pemerintahan (NGO). Bantuan ini bertujuan untuk membantu masyarakat Indonesia di bidang pendidikan maupun kesehatan.

"Bantuan hibah bisa didaftarkan hanya oleh NGO (non pemerintahan). Bidangnya fokus untuk membantu penduduk-penduduk biasa dalam bidang pendidikan hingga kesehatan, juga untuk membantu penduduk Indonesia yang sedang menghadapi kesulitan," terang Second Secretary of Economic Section Kedutaan Besar Jepang, Nobuhisa Hori, setelah penandatangan hibah di Kedutaan Besar Jepang, Jakarta Pusat, Senin (21/03/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Program bantuan hibah dari Pemerintah Jepang ini sudah dilakukan sejak tahun 1989 dan diberikan rutin setiap tahunnya kepada 10 proyek terpilih.

"Tahun 1989 pertama kali memberi hibah ini. Di Indonesia sekitar 10 proyek terpilih setiap tahunnya," jelas Hori.

Pada tahun ini Pemerintah Jepang memberikan dana hibah ke 9 lembaga non pemerintah mencapai 88,84 juta yen. Sembilan lembaga ini terdiri dari bidang pendidikan, kesehatan, pelatihan kerja, dan kesejahteraan sosial.

Program yang diusulkan oleh lembaga harus bersifat membantu masyarakat. Program yang dikirim ke Kedutaan Besar Jepang di Indonesia akan diseleksi dan diverifikasi terlebih dahulu.

"Bidang apa saja harus membantu penduduk dalam menghadapi kesulitan. Sepanjang tahun kami menerima pendaftaran yang nantinya diseleksi lagi. Pertama kami seleksi isi proyeknya, lalu kelompok tersebut bisa dipercaya atau tidak juga kami cek. Setelah itu baru kita melihat lokasi proyek tersebut," tutur Hori

Bentuk program yang diusulkan juga beraneka ragam namun harus program yang dapat membantu masyarakat.

"Ada misalnya pendidikan mau bikin sekolah atau bikin asrama. Intinya program yang bisa membantu masyarakat," tutup Hori.

Berikut proyek-proyek tersebut:

1. Proyek Pembangunan Fasilitas Pelatihan Kerja di Sleman, D.I. Yogyakarta, senilai 8,2 juta yen. Untuk memberikan keterampilan dan pengetahuan mengenai jahit-menjahit, pencelupan batik dan pengelolaan makanan kepada sebanyak mungkin peserta wanita, membangun 1 gedung 2 lantai (ruang pelatihan, ruang kelas, ruang pelatih dan koridor yang menghubungkan dengan gedung yang sudah ada), ruang pelatihan pencelupan batik, serta mengadakan peralatan untuk pelatihan kerja di Sleman, D.I. Yogyakarta.

2. Proyek Pembangunan Pusat Rehabilitasi Kecanduan Narkoba di Kota Palembang, Sumatera Selatan senilai 9,9 juta yen. Untuk merehabilitasi sebanyak mungkin pecandu narkoba, membangun 1 gedung rehabilitasi (10 kamar, tempat serba guna yang digunakan untuk terapi, pemeriksaan medis, dll) dan mengadakan peralatannya di Palembang, Sumatera Selatan.

3. Proyek Pemberdayaan Nelayan di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat senilai 7,2 juta yen. Ada 4 desa 5 dusun di Kecamatan Moyo Utara dan Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat    

4. Proyek Peningkatan Pelayanan Medis dan Lingkungan Pendidikan  melalui Dukungan Elektrifikasi di Wakatobi, Sulawesi Tenggara senilai 15,3 juta yen. Di Desa Rarak Ronges di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat dilakukan pembangunan instalasi pengolahan air bersih dengan tenaga surya sehingga masyarakat mendapatkan akses kepada air bersih. Selain itu, menyuplai listrik tenaga surya ke perpustakaan di sekolah dan fasilitas yang lain dengan tujuan meningkatkan kualitas lingkungan pendidikan.

5. Proyek Peningkatan Pelayanan Medis dan Lingkungan Pendidikan  melalui Dukungan Elektrifikasi di Wakatobi, Sulawesi Tenggara senilai 9,9 juta yen. Mengadakan instalasi pembangkit listrik tenaga surya dan menyuplai listrik ke Puskesmas, sekolah dan fasilitas masyakarat di Desa Kulati, Pulau Tomia, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas pelayanan medis dan lingkunan pendidikan.

6. Proyek Pencegahan dan Pengendalian Tuberkulosis (TBC) dan HIV/AIDS di Sumba, Nusa Tenggara Timur senilai 9,5 juta yen. Mengadakan peralatan medis dan melakukan pelatihan terhadap staf di sebanyak 4 rumah sakit dan klinik di Sumba Tengah dan Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, dan melaksanakan penyuluhan mengenai Tuberkulosis dan HIV/AIDS kepada masyarakat, sehingga dapat mengendalikan penyebaran Tuberkulosis dan HIV/AIDS.

7. Proyek Pembangunan Rumah Singgah Bagi Pasien HIV/AIDS di Jayawijaya, Papua senilai 9,6 juta yen. Untuk memberikan pelayanan yang lebih efisien kepada lebih banyak pasien AIDS di Jayawijaya, Papua dengan membangun 1 shelter yang terdiri dari 4 kamar (1 kamar untuk 2 orang), 1 toilet umum, 1 dapur, 1 ruang konseling, 1 ruang serba guna, 1 ruang kantor, dan 1 ruang cuci.

8. Rencana Pembangunan SD di Cilacap, Jawa Tengah senilai 8 juta yen. Merenovasi 1 gedung sekolah (1 lantai, yang memiliki 4 ruang kelas) dan memperluas ruang kelas baru (3 ruangan) di SD Negeri 11 Ma'arif NU Bulusari di Desa Bulusari kecamatan Gandrungmangu, Cilacap, Jawa Tengah, sehingga dapat meningkatkan kualitas lingkungan pendidikan.

9. Proyek Pembangunan SMP di Indramayu, Jawa Barat senilai 8,7 juta yen. Membangun 1 gedung sekolah 2 lantai (yang terdiri dari: 3 ruang kelas, 1 ruang IPA, 1 perpustakaan, dan 1 ruang komputer) dan mengadakan peralatan pendidikan, seperti komputer, di MTs Ma'arif Langut di Lohbener, Indramayu, Jawa Barat, sehingga dapat meningkatkan kualitas lingkungan pendidikan. (ang/dnl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads