Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementan, Garjtita Budi M, mengatakan saat ini produksi pangan pokok seperti beras, cabai merah, dan bawang merah sedang melimpah di petani, namun harga jualnya justru mahal.
Salah satu alasannya adalah rantai distribusi yang masih panjang dari petani hingga ke pedagang di Jakarta. Nah jika rantai ini bisa dipangkas, maka harga jual di pedagang bisa lebih murah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melihat kondisi tersebut, Kementan ingin menunjukkan sekaligus membuktikan bahwa komoditas pangan yang dibelinya langsung di Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) daerah bisa dijual di bazar murah dengan harga yang tidak tinggi.
"Memang pemerintah tidak ambil untung di sini. Ini memberi contoh ternyata penjual dan juga masyarakat bisa memperoleh pangan dengan harga rendah," ujarnya.
Menurutnya, bazar murah yang digelar di Jakarta dan Depok dilandasi karena harga ketiga komoditas tersebut ketika sampai (dijual) di Jakarta harganya paling tinggi.
"Untuk ketiga pangan tersebut, ketika sudah sampai di Pasar Induk, harganya tinggi sekali perbedaannya berkisar Rp 10.000-15.000/kg untuk bawang merah dan cabai merah terutama," katanya.
Untuk itu, ia menggandeng Toko Tani Indonesia (TTI) dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) untuk mengadakan bazar murah di 3 titik pasar kawasan Jakarta dan Depok.
Ia berharap melalui bazar murah ini pedagang dapat mengambil sikap yang lebih kooperatif ke depannya. Pedagang yang mengambil langsung ke sentra produksi di daerah, kemudian menjualnya di pasar di Jakarta tidak lagi menekan harga setinggi mungkin.
Garjtita menambahkan, yang terpenting adalah saling menguntungkan. Pedagang mendapat untung, petani mendapat harga yang bagus, dan masyarakat mendapat harga yang tidak terlalu tinggi.
"Jangan sampai petani harganya diinjak, tetapi kemudian di masyarakat harga yang ditawarkan melambung tinggi. Itulah poinnya kita adakan bazar murah di 3 pasar tersebut. Keadilan tata niaga yang kita harapkan di sini." pungkasnya. (ang/ang)











































