"India bisa tumbuh 7,5% lebih cepat dari China," kata Ajay Chibber, mantan Direktur Jenderal Penilaian Independen, Kementerian Dalam Negeri, India dalam seminar ekonomi di Kantor Pusat Bank Indonesia (BI), Jakarta, Rabu (23/3/2016).
Pemerintah India juga berhasil menjaga inflasi pada level 5%, defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) sebesar 1,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) dan defisit anggaran 3,5% dari PDB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagaimana caranya?
Ajay menjelaskan perjalanan India untuk mencapai level seperti sekarang tidaklah mudah. Setidaknya ada 13 tahun lamanya untuk melakukan reformasi struktural dengan sangat serius di dalam perekonomian. Dengan fokus kepada pertumbuhan ekonomi, investasi dan aliran modal.
"Ini tidak bisa hanya dengan satu kali periode, terus dilakukan meski berganti periode," terangnya.
Pemerintah India menciptakan kemudahan berusaha agar banyak investasi tertanam, terutama yang bersifat padat karya. Sehingga bisa mendorong lebih banyak tenaga kerja dan mengurangi pengangguran.
Pada sektor keuangan, fokus diarahkan kepada kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) pada perbankan. Mengingat perbankan masih menjadi salah satu unsur penting menjaga ketahanan pasar keuangan dan ekonomi secara keseluruhan.
Ajay menambahkan selain itu adalah menjaga defisit anggaran pada level yang aman. Caranya adalah meningkatkan penerimaan pajak. Ajay mengakui rasio pajak di India masih 10% terhadap PDB.
"Maka kita berupaya untuk meningkatkan basis pajak dengan berbagai langkah pendekatan kepada masyarakat," ungkapnya.
Untungnya, India tidak memiliki beban belanja subsidi yang terlalu besar. Saat ini hanya 4% dari PDB. Belanja diarahkan kepada pembangunan infrastruktur yang sudah dilakukan sejak beberapa tahun yang lalu.
"Subsidi yang kita berikan hanya 4% dari PDB dan untuk minyak sendiri 3% dari PDB," tegas Ajay.
Pola tersebut, menrutunya akan terus dilakukan ke depannya. Ajay mengakui sekarang perekonomian dunia tengah dalam perlambatan, bahkan China ysekarang hanya bergerak di level 6% dengan proyeksi terus menurun.
Namun dengan fundamental ekonomi yang kuat, harusnya India bisa terhindar dari dampak pelemahan ekonomi global. "Pemerintah yang baru akan berjuang keras untuk terus melakukan reformasi agar bisa mencapai target pertumbuhan 8-9%," pungkasnya. (mkl/ang)










































