Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 29 Mar 2016 13:35 WIB

Begini Rencana Dirjen Pajak Pungut Pajak dari Pedagang Online

Maikel Jefriando - detikFinance
Foto: Ari Saputra Foto: Ari Saputra
Jakarta - Pemerintah saat ini masih mencari formula soal rencana pengenaan pajak bagi perdagangan online (e-commerce). Bisnis online masih belum tersentuh Pajak Pertambahan Nilai (PPN) hingga Pajak Penghasilan (PPh).

Direktur Jenderal Pajak, Ken Dwijugiasteadi, mengatakan rencananya setiap transaksi online akan dikenakan pajak kepada pembeli. Pajak dikumpulkan oleh di pedagang dan disetorkan kepada Ditjen Pajak.

"Begini, kalau nanti salah satu contoh, penjual online, yang motong ya penjual online ini. Rp 10,000, PPN-nya 10%, kalian (pembeli) bayar Rp 11,000. Yang nyetor yang punya bisnis online," jelasnya di kantornya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa (29/3/2016).

"Kalau PPN kan tiap transaksi. Kalian kalau pernah beli online, nah iya. Beli barang lewat online, namanya beli online pasti ada (pajaknya). Waktu Anda bayar, sudah termasuk PPN," jelasnya.

Lalu bagaimana dengan situs-situs luar negeri yang selama ini menjamur di Indonesia dan belum bayar pajak karena aturannya belum ada?

"Google, Youtube, web address-nya kan ada quote-nya Indonesia. Itu seharusnya BUT,Bentuk Usaha Tetap di sini. Sedangkan, web kita di Amerika yang jualan animasi dipajaki. Mereka yang gede-gede enggak mau? Harus," kata Ken.

Ia mengatakan, situs AS yang bisa diakses Indonesia selama ini bergerak di bidang jasa sehingga tidak terlihat objek pajaknya. Namun Ken sudah mengkaji informasi tersebut.

"Kalian kalau punya Facebook, kalian bayar PPN gak? Bayar. Pulsanya. Yang mungut siapa? Providernya. Kalau Facebook-nya, kalau masuk Indonesia ya harus BUT. Facebook-nya kan ada penghasilan. Nanti kita kejar," ujarnya.

Seperti diketahui, sektor belanja online ini masih tergolong baru di Indonesia. Dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya, Indonesia dibilang terlambat menerapkan e-commerce.

Namun secara potensi market, Indonesia boleh berbangga diri. Sebab saat ini, penduduk Indonesia mencapai 250 juta dengan jumlah 83,6 juta teridentifikasi sebagai pengguna internet. Rata-rata pertumbuhan penetrasi internetnya mencapai 33%.

Sementara untuk pengguna smartphone sudah mencapai 71 juta. Secara sales digital advertising, industri e-commerce di Indonesia mencapai US$ 1,2 miliar tahun lalu.

Sayangnya, nilai perdagangan itu belum bisa dimanfaatkan untuk ditarik pajak. (ang/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com