Rizal Ramli Sebut Ada Masalah Waktu Tunggu Kapal, Ini Respons Operator Pelabuhan

Rizal Ramli Sebut Ada Masalah Waktu Tunggu Kapal, Ini Respons Operator Pelabuhan

Muhammad Idris - detikFinance
Rabu, 30 Mar 2016 19:00 WIB
Rizal Ramli Sebut Ada Masalah Waktu Tunggu Kapal, Ini Respons Operator Pelabuhan
Foto: agung pambudhy
Jakarta - Beberapa waktu lalu, Menko Maritim Rizal Ramli menyebut, selain masalah dwell time, masalah lain mahalnya biaya logistik juga ditimbulkan oleh demurrage time atau waktu tunggu kapal di pelabuhan.

Demurrage time terjadi salah satunya karena operator pelabuhan yang berbeda-beda. Hal ini membuat kapal yang datang lebih awal belum tentu dilayani pertama kali atau first come first serve.

Direktur Utama PT Jakarta International Container Terminal (PT JICT), Dani Rusli mengungkapkan, sulit menerapkan konsep first come first serve pada pelabuhan yang sudah dioperasikan banyak operator seperti di Tanjung Priok.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pola kapal prinsipnya barang dikumpulkan di satu dermaga, kalau kapal datang barang peti kemas sudah siap untuk dibongkar, turunkan, muat atau dinaikkan. Harus dimengerti kalau di Tanjung Priok juga kebanyakan kapal sudah punya schedule-nya. Masa misal karena satu kapal terlambat 5 jam kemudian yang datang dulu dilayani," jelas Dani ditemui di Menara Kadin, Jakarta, Rabu (30/3/2016).

Dia menyebut, pengumpulan peti kemas yang akan dinaikkan atau diturunkan di pelabuhan, sudah terjadwal dan malah akan mengurangi kecepatan jika semua operator harus menerapkan first come first serve.

"Seperti terminal penumpang bus. Di lokasi ini sudah ditetapkan buat berkumpulnya penumpang terminal tujuan Pulogadung, satu tempat terminal lagi buat berkumpulnya penumpang tujuan Kampung Rambutan, Blok M, dan sebagainya. Masa, ketika bus tujuan Pulogadung datang, karena dia datang duluan tapi di tempat berkumpul penumpang Pulogadung masih ada bus lain, bus tujuan Pulogadung suruh angkut penumpang yang kumpul di tempat tujuan Rambutan," terang Dani.

Prinsip pelabuhan yang efisien, menurutnya, yakni terminal jadi titik pengumpulan peti kemas pada kuantitas tertentu, sebelum siap dinaikkan atau diturunkan dari kapal.

"Misal ada 3-4 kapal. Bagaimana caranya pola operasinya dikonsolidasikan. Tidak satu kapal telat datang karena badai kemudian kita layani kapal lain yang datang duluan, nanti barangnya nggak sesuai bagaimana," tutupnya (hns/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads