Dalam pertemuan tersebut, Doris menawarkan berbagai produk dari negaranya untuk diekspor ke Indonesia, di antaranya mobil listrik.
"Dia nawarin macam-macam, ada produk mobil listrik," kata Jonan saat ditemui di Kantor Kemenhub, Jakarta, Kamis (31/3/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mobil listrik Swiss itu sangat spesifik, misalnya untuk pelayanan di bandara," Jonan mengungkapkan.
Menurut Jonan, mobil listrik Swiss berkualitas baik. Cocok digunakan di bandara.
"Dari segi keamanan air side lebih bagus. Sekarang kan pakai kendaraan diesel, kurang bersih dan kurang safe. Kalau mau bersih ya pakai mobil listrik," paparnya.
Penawaran tersebut baru penjajakan awal karena belum ada badan usaha Indonesia yang berencana membeli mobil listrik Swiss.
"Mesti dijajaki masing-masing dengan badan usaha atau sub sektor yang membutuhkan. Baru pembicaraan awal saja," dia menambahkan.
Selain itu, Doris dan Jonan juga sepakat untuk memperbaharui perjanjian Air Service Agreement.
"Yang pokok tadi adalah pembaruan perjanjian angkutan udara antara pemerintah Indonesia dengan Swiss, namanya Air Service Agreement," tuturnya.
Dengan adanya perjanjian tersebut, maskapai penerbangan kedua negara mau membuka rute dari Indonesia ke Swiss atau sebaliknya.
"Ini dibuat dengan tujuan mudah-mudahan ada penerbangan ke sana. Dibuka ruangnya untuk angkutan udara yang qualified ya terbang ke EU (Uni Eropa)," tutupnya. (mkl/feb)











































