Berikut ini data penyumbang inflasi dan deflasi Maret seperti disampaikan Kepala BPS, Suryamin, saat jumpa pers di kantornya, Jakarta, Jumat (1/4/2016).
Inflasi
1. Bawang merah
Kenaikan harga 31,99%. Andil terhadap inflasi 0,16%. Penyebabnya karena memang kalau dengan hujan yang banyak itu gagal panen. Terjadi inflasi 74 kota IHK dengan tertinggi di Tegal dan Kudus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenaikan harga 20,37%. Andil terhadap inflasi 0,13%. Karena kurang pasokan dari sentra produksi. 75 kota IHK. Tertinggi di Tanjung Pandan, Manokwari.
3. Cabai rawit
Kenaikan harga 31,52%. Andil terhadap inflasi 0,05%. Karena pasokan berkurang karena gagal panen. Terjadi 37 kota IHK. Tertinggi di Kediri.
4. Emas perhiasan
Kenaikan harga 2,46%. Andil terhadap inflasi 0,03%. Karena mengikuti pergerakan harga internasional. Tertinggi kenaikan terjadi di Bau-bau dan Manado.
5. Bawang putih
Kenaikan harga 8,46%. Andil terhadap inflasi 0,02%. Pasokan tidak banyak dari sentra produksi dan sebagian besar sih impor. Terjadi 80 kota IHK. Tertinggi Pangkal Pinang dan Mulu Kumba.
Deflasi
1. Daging ayam ras
Penurunan harga 9,18%. Andil terhadap deflasi 0,12%. Pasokan banyak karena penataan yang bagus. Terjadi di 72 kota IHK. Pare-pare dan Banyuwangi.
2. Telur ayam ras
Penurunan harga 9,08%. Andil terhadap deflasi 0,07%. Ini juga karena pasokan banyak. Turun di 72 kota IHK. Tertinggi Kediri dan Banyuwangi.
3. Tarif Listrik
Penurunan harga 1,16%. Andil terhadap deflasi 0,06%. Terjadi penurunan di 80 kota IHK.
4. Beras
Penurunan harga 0,56% dan andil terhadap deflasi 0,03%. Karena pasokan banyak karena sudah mulai panen raya. Tertinggi di Sumenep.
5. Tarif angkutan udara
Penurunan harga 5,15%. Andil terhadap deflasi 0,03%. Karena kebijakan pemerintah. Terjadi di 32 kota IHK. Tertinggi di Singkawang. (ang/feb)











































