Pedagang Beras Ambil Untung Terlalu Besar, Apa Aksi Mentan?

Pedagang Beras Ambil Untung Terlalu Besar, Apa Aksi Mentan?

Michael Agustinus - detikFinance
Selasa, 05 Apr 2016 08:51 WIB
Pedagang Beras Ambil Untung Terlalu Besar, Apa Aksi Mentan?
Foto: Cindy Audilla
Jakarta - Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), harga gabah di tingkat petani sudah anjlok 9,76% sepanjang Maret 2016. Tetapi harga beras eceran di pasar hanya turun 0,56%.

Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, menyatakan anomali itu menunjukkan ada pihak-pihak yang memperoleh keuntungan besar di rantai distribusi. Ada masalah di rantai pasokan.

Sedangkan petani sebagai produsen dan masyarakat sebagai konsumen sama-sama dirugikan, harga di petani jatuh tapi di konsumen tetap tinggi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Itulah yang kami teriakan selama ini bahwa rantai pasoknya bermasalah. Ada anomali pasar. Nggak masuk akal kan? Mestinya linier. Tata niaganya harus dibenahi," kata Amran kepada detikFinance di Jakarta, Selasa (5/4/2016).

Dia menambahkan, berdasarkan pengamatannya di lapangan, penurunan harga gabah di petani bahkan lebih besar lagi dari perhitungan BPS. "Kalau dihitung dari Januari, harga gabah di petani sudah turun 25-40%. Tadinya Rp 5.000/kg, sekarang Rp 3.000/kg. Paling besar penurunan di Jawa Tengah dan Jawa Timur," ujarnya.

Dirinya mengaku tak tinggal diam melihat kenyataan tersebut. "Kita sudah turun ke lapangan 21 hari, nggak bisa dibiarkan petani menangis sendiri. Harga GKP Rp 3.000-3.200/kg di lapangan, sekarang sudah naik sedikit jadi Rp 3.400-3.700kg," ucap Amran.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Amran menginstruksikan Perum Bulog untuk lebih banyak membeli gabah dari petani. Bulog didorong untuk lebih banyak menghimpun stok dalam bentuk gabah, bukan dalam bentuk beras.

Dengan menyerap dan menyimpan stok dalam bentuk gabah, petani maupun Bulog sama-sama untung. Bagi Bulog sendiri, sebenarnya membeli gabah bisa lebih efisien dibanding membeli beras. Sebab, gabah dibeli langsung dari petani, sedangkan beras biasanya sudah dikuasai pedagang perantara. Selain itu, gabah juga bisa disimpan lebih lama dibanding beras.

Sepanjang Maret 2016 lalu, Amran mengungkapkan, serapan gabah Bulog sudah 400.000 ton. "Serapan gabah Bulog sepanjang Maret saja sudah 400.000 ton, langsung ke petani. Ketemu langsung dengan petani, harganya pasti murah. Gabah juga lebih tahan lama," tukas dia.

Dengan cara ini, harga gabah di tingkat petani merangkak naik, tak bisa ditekan terlalu rendah oleh pedagang perantara, sehingga pedagang tak bisa mengambil untung terlalu banyak. "(Harga gabah di petani) Ada yang 3.400/kg, Rp 3.700/kg, ada yang sudah Rp 4.000/kg. Harga di petani sudah mulai naik," tutupnya.

Sebagai informasi, BPS mencatat penurunan harga gabah yang cukup signifikan di tingkat petani. Akan tetapi pada tingkat selanjutnya, penurunan harga beras yang terjadi sangatlah kecil.

Kepala BPS, Suryamin, menyampaikan harga gabah di tingkat petani turun 9,76%. Sementara beras di penggilingan hanya turun 1,84%, di tingkat grosir 0,44%, dan beras eceran turun 0,56%.

"Petani gampang menurunkan harga, tapi kalau penggilingan eceran itu tidak sejalan. Harusnya kalau petani turun, yang lainnya juga turun. Pedagang jangan terlalu banyak cari untung," ujarnya. (wdl/wdl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads