Hambatan itu terkait dengan beban biaya atau cost of money tinggi yang harus ditanggung pengusaha.
"Memang untuk bersaing dengan luar negeri, perusahaan kita belum bisa. Bukan karena tidak sanggup, tapi kita masih harus kerja keras dengan cost of money yang tinggi dibanding negara lain," ujar dia dalam diskusi di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, Selasa (6/4/2016).
Beban biaya yang dimaksud adalah bunga pinjaman perbankan yang harus ditanggung pengusaha.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, kondisi tersebut membutuhkan dukungan dari lembaga-lembaga terkait, karena Kementerian PUPR tak punya kewenangan mengatur besaran suku bunga.
"Tapi kalau melihat kemampuan, kapasitas kontraktor kita sudah mumpuni untuk bersaing. Untuk bersaing di luar negeri, ini memang menjadi PR (Pekerjaan Rumah) kita bersama," pungkas dia. (dna/hns)










































