Ketua Umum Asosiasi Eksportir Importir Buah dan Sayuran Segar Indonesia (Aseibssindo), Khafid Sirotudin mengungkapkan, ada sejumlah alasan pihaknya kesulitan mengekspor buah ke luar negeri.
"Kita kan importir juga. Bukannya kita nggak punya nasionalis, nggak mau ekspor bantu petani, tapi kita mau ekspor barangnya di mana? Memang sedikit barangnya, karena sedikit ekspor pakai pesawat, jadi nggak ekonomis," ujar Khafid pada detikFinance, Rabu (13/4/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Akhirnya banyak impornya. Kita kan tidak hanya mau jual (impor), tapi kalau bisa juga beli dari petani (ekspor). Tapi kan data produksi di atas meja nggak sesuai kadang. Barangnya di mana? Kelompok petaninya siapa? Jumlah produksinya berapa? Itu kan kita minta pemerintah itu belum ada," jelas Khafid.
Data yang tidak akurat terkait produksi buah, lanjut Khafid, juga membuat pengendalian buah impor sulit dilakukan.
"Contoh kita mau impor jeruk, tapi dilarang impor saat Januari sampai Maret, karena alasannya pasokan jeruk dalam negeri lagi banyak. Banyaknya di mana? petani mana yang produksi, jeruknya jenis apa kan juga harus jelas. Data kan harus transparan," tutup Khafid. (feb/feb)











































