Ini Cara Kementan Kendalikan Harga Cabai dan Bawang Merah

Ini Cara Kementan Kendalikan Harga Cabai dan Bawang Merah

Muhammad Idris - detikFinance
Senin, 18 Apr 2016 18:50 WIB
Ini Cara Kementan Kendalikan Harga Cabai dan Bawang Merah
Foto: Muhammad Idris - detikFinance
Brebes - Kementerian Pertanian (Kementan) punya cara untuk mengendalikan harga cabai dan bawang merah di pasaran yang belakangan terakhir melambung tinggi.

Melalui cara ini, Kementan meyakini harga cabai dan bawang merah tidak akan melambung tinggi, paling tidak bisa dikendalikan.

Bagaimana caranya?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dirjen Hortikultura Kementan, Spudnik Sujono Kamino menyebutkan, salah satu cara Kementan mengendalikan harga cabai dan bawang merah adalah dengan menggandeng tengkulak untuk dijadikan mitra Kementan. Cara tersebut sudah dilakukan tahun ini.

"Ini salah satu cara Kementan mengendalikan harga dengan menggandeng tengkulak untuk jadi mitra Kementan, baru dilakukan tahun ini," ujarnya saat ditemui di Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Senin (18/4/2016).

Spudnik menjelaskan, kemitraan yang dimaksud adalah dengan menggandeng mitra yang dianggap sebagai pedagang besar atau petani yang memiliki lahan luas, dalam hal ini pengusaha.

Nantinya, pengusaha ini menggandeng petani-petani kecil dan dikumpulkan dalam suatu wadah yang diberi nama Avalis. Program kemitraan Avalis ini dibentuk di semua kawasan di Brebes. Saat ini, baru ada 10 Avalis. Ini akan terus dikembangkan menjadi semakin luas.

Untuk tahap awal, pengembangan lahan baru dilakukan untuk cabai dan bawang merah.

"Dalam pengembangan lahan, untuk tahap awal, cabai dan bawang merah. Sekarang bawang dulu karena kita lagi di Brebes. Ini salah satu cara untuk menanggulangi pola tanam petani," paparnya.

Bagaimana pola kerja sama ini?

"Mereka (pengusaha) harus membeli bawang dari petani dan menjualnya sesuai dengan harga yang ditetapkan Kementan. Mitra atau Avalis memiliki petani binaan dalam satu kawasan, petani yang biasa, dia beli bawang merahnya, kemudian menjual harga dengan harga yang ditetapkan. Ini untuk mengendalikan harga. Kalau tanpa ditentukan Kementan, nanti penjualnya jual seenaknya saja. Misal di Jakarta harga bawang merah Rp 30-35 ribu per kg, ini harus jual Rp 25 ribu sesuai permintaan kita," jelas dia.

Kenapa harus membentuk Avalis?

"Kenapa kita memilih mitra Avalis, karena dalam bawang merah tidak ada Bulog dan Bulog tidak bisa lindas penebas. Kalau penebas dia bisa datang subuh-subuh bawa kresek isinya uang, datang ke petani buat beli bawang merah. Penebas beli di depan di awal, kayak sistem ijon," ungkapnya.

Sebagai timbal baliknya menjual harga yang lebih murah, Spudnik menyebutkan, pemerintah melalui Kementan akan memberikan berbagai macam bantuan untuk keperluan para petani seperti benih, bibit, genset, traktor, dan lain-lain.

"Itu kita belajar dari pengalaman Bulog ide itu muncul karena ketika Kementan kasih bantuan ke petani kasih benih, genset, traktor, tapi begitu panen Bulog nggak bisa beli di harga yang ditetapkan, tapi beli di harga pasar karena tidak ada kontrak, makanya saya carikan solusi agar petani bisa dikoordinir dan dikelola secara baik," ujarnya.

Dengan kerja sama ini, Spudnik meyakini, harga cabai dan bawang merah bisa dikendalikan.

"Sekarang sudah berjalan tapi baru 10, kita akan cari sebanyak-banyaknya. Ini bisa untuk kendalikan harga," pungkasnya. (drk/feb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads