Saat detikFinance tiba di lokasi beberapa ibu-ibu tampak sedang menyangrai kopi. Rupanya sedang ada pelatihan Industri Kecil dan Menengah dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Banyuwangi yang berlangsung dari tanggal 21-25 April.
"Ini kami menyangrai kopi, nanti campurannya durian kalau kemarin nangka," ujar Salah satu peserta bernama Robiah, di Desa Bulusari, Kalipuro, Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (22/4/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau diminum sendiri biasanya dibuat campur jahe, beras atau jagung," katanya.
![]() |
Rupanya ibu-ibu di desa itu belum mengetahui bila menyangrai biji kopi bisa ditambah dengan aneka buah untuk menambah aroma dan memberikan rasa. Peserta lainnya, Adawiyah, merasa senang dengan pelatihan dari Disperindag.
"Biasa dinikmati sendiri, ternyata kopi banyak manfaatnya dan banyak rasa. Di sini memang tempatnya kopi di samping itu juga banyak pohon durian, manggis, langsat, kepundung. Setelah dicicipi enak yang rasa durian," ujar wanita asal Sumenep ini.
Menurut keterangan Robiah biji kopi di desanya kerap dijual dalam bentuk kering. Per kilo kopi Robusta Rp 20 ribu sedangkan kopi Buria laku seharga Rp 30 ribu.
"Alhamdulilah wis (sudah) cukup buat makan. Kalau bisa buat sendiri ya jadi tertarik jual seperti ini," katanya.
Pendamping yang ditunjuk oleh Disperindag untuk pengolahan kopi beraneka rasa ini adalah Siti Rohimah. Siti juga merupakan pelaku usaha penjual kopi dengan merk Prima Rasa.
"Sekitar 40% dari proses menyangrai ketika bau basah biji kopinya sudah hilang baru dimasukkan durian atau buah lainnya. Biar masyarakat tahu kalau kopi bisa di-combine (dipadu), kemarin nangka, nanti ada kayu manis," terangnya.
Siti pun menjelaskan bila produk kopinya awet dan tahan lama. Dia pun menyarankan agar menikmati kopi itu setelah diinapkan minimal dua hari.
"Agar rasanya lebih terasa, semakin lama itu malah semakin enak. Kopi ini expired-nya sekitar satu tahun," imbuhnya.
Dia juga menjelaskan kepada ibu-ibu di Desa Bulusari, bila biji kopi setelah diolah juga bertambah nilai jualnya. Apalagi bila diolah menjadi beraneka rasa. Dia kemudian membandingkan nilai jual produknya ketika sudah diseduh antara kopi hitam dengan yang beraneka rasa.
"Kalau kopi hitam saja Rp 2.000/gelas sedangkan yang aneka rasa Rp 5.500/gelas," kata wanita lulusan sastra Inggris Universitas Airlangga ini.
![]() |
Dia pun juga menyemangati ibu-ibu agar tidak patah arang. Dia mengisahkan sebelum produknya laku terjual dia juga mengalami kisah pahit.
"Dukanya saat menawarkan ditolak, senangnya kalau tolak satu datang dua. Beberapa kali teman bawa ke Selandia Baru buat buah tangan. Sekarang juga sudah menyuplai toko-toko," katanya memberi semangat.
Desa Bulusari bersebelahan dengan Desa Kampunganyar Kecamatan Glagah yang dipersiapkan sebagai 'smart kampung'. Dari kota Banyuwangi perjalanan menuju Bulusari memakan waktu sekitar 30 menit. Desa itu terkenal sebagai penghasil kopi, buah manggis dan durian. (ams/ang)













































